Nama : Qurrotul A’yunina
Hadifah
Nim : 23010113140166
Nim : 23010113140166
PENGARUH
TEKNOLOGI DEFAUNASI PADA RANSUM TERHADAP
PRODUKTIVITAS
TERNAK SAPI PERAH RAKYAT
(The
Effect of Defaunation Technology on Ration for Dairy Cow Productivity in
Smallholder
Farmer
Condition)
ARYOGI1,
M. ALI YUSRAN1, U. UMIYASIH1, A. RASYID1, L. AFFANDHY1 dan H. ARIANTO2
1Instalasi
Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Grati-Pasuruan
2Instalasi Penelitian
dan Pengkajian Teknologi Pertanian Wonocolo-Surabaya
ABSTRAK
Pengkajian
ini bertujuan mengetahui tingkat efisiensi perlakuan defaunasi sebagai
salah satu bentuk teknologi pakan alternatif untuk meningkatkan efisiensi
produksi dan ekonomi usaha sapi perah kondisi rakyat. Materi pengkajian adalah
13 ekor sapi perah
laktasi milik peternak rakyat di desa Pagelaran Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Pada ransum sapi perah pola peternak tersebut, ditambahkan bahan-bahan (dasar bahan kering ransum) minyak kelapa 1,5% pada awal masa adaptasi serta awal dan pertengahan perlakuan; minyak ikan 1,5% setiap 3 hari selama perlakuan serta pupuk urea 1,0%, amonium sulfat 0,7% dan molasses/tetes 6,0% setiap hari selama perlakuan. Pendekatan metode analisis sebelum dan selama perlakuan digunakan dalam pelaksanaan pengkajian, yaitu periode kontrol selama 14 hari dengan ransum pola peternak, periode adaptasi selama 7 hari dengan ransum perlakuan dan periode perlakuan selama 21 hari dengan ransum perlakuan. Parameter yang diamati meliputi data teknis (produksi dan kualitas susu serta konsumsi dan konversi ransum) dan data sosial ekonomi (nilai profit ekonomi dan respon peternak terhadap teknologi pengkajian). Metode analisis statistik yang digunakan adalah uji t berpasangan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa, perlakuan defaunasi terhadap sapi perah laktasi secara nyata mampu meningkatkan konversi ransum (0,695 vs 0,917), kualitas produksi susu, keuntungan peternak (Rp. 565/ekor/hari) dan mendapatkan respon positif dari peternak.
laktasi milik peternak rakyat di desa Pagelaran Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Pada ransum sapi perah pola peternak tersebut, ditambahkan bahan-bahan (dasar bahan kering ransum) minyak kelapa 1,5% pada awal masa adaptasi serta awal dan pertengahan perlakuan; minyak ikan 1,5% setiap 3 hari selama perlakuan serta pupuk urea 1,0%, amonium sulfat 0,7% dan molasses/tetes 6,0% setiap hari selama perlakuan. Pendekatan metode analisis sebelum dan selama perlakuan digunakan dalam pelaksanaan pengkajian, yaitu periode kontrol selama 14 hari dengan ransum pola peternak, periode adaptasi selama 7 hari dengan ransum perlakuan dan periode perlakuan selama 21 hari dengan ransum perlakuan. Parameter yang diamati meliputi data teknis (produksi dan kualitas susu serta konsumsi dan konversi ransum) dan data sosial ekonomi (nilai profit ekonomi dan respon peternak terhadap teknologi pengkajian). Metode analisis statistik yang digunakan adalah uji t berpasangan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa, perlakuan defaunasi terhadap sapi perah laktasi secara nyata mampu meningkatkan konversi ransum (0,695 vs 0,917), kualitas produksi susu, keuntungan peternak (Rp. 565/ekor/hari) dan mendapatkan respon positif dari peternak.
Kata
kunci: Teknologi defaunasi, ransum, produktivitas sapi
perah.
1.
PENDAHULUAN
Hasil
penelitian SOETANTO (1994) menunjukkan dari 10 jenis pakan konsentrat komersial
sapi perah yang beredar di pasaran, ternyata angka degradabilitasnya adalah
sangat tinggi (80,91– 94,05%), sehingga menurut HOAGLUND et al. (1992)
sebagian besar kandungan zat-zat nutrisinya akan terdegradasi oleh mikrobia
rumen menjadi senyawa-senyawa yang tidak dapat dimanfaatkan ternak. Implikasi
hasil penelitian tersebut, tingkat efisiensi pemanfaatan konsentrat oleh ternak
menjadi cukup rendah. Teknologi pakan alternatif pada ternak ruminansia adalah
mencakup dua hal, yaitu: (1) teknologi pengolahan bahan-bahan pakan
untuk meningkatkan kualitas zat-zat nutrisinya, dan (2) teknologi
penyiapan bahan-bahan pakan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan zat-zat
nutrisinya. Defaunasi adalah suatu teknik manipulasi fermentasi dalam rumen
ternak, melalui peniadaan mikrofauna “protozoa”, yang bertujuan untuk
meningkatkan efisiensi pemanfaatan zat nutrisi ransum yang tinggi angka
degradabilitasnya (SUTARDI, 1999). Di dalam rumen ternak, terdapat mikrobia
protozoa dan bakteri yang membantu proses pencernaan fermentatif (WILSON et
al., 1998). Mikrobia protozoa akan menghasilkan gas NH3 di dalam rumen
ternak. Apabila teknik defaunasi diterapkan maka akan terjadi penurunan kadar
NH3, sehingga perlu adanya penambahan urea (SUTARDI, 1999). Disamping itu perlu
ditambahkan prekursor methionine seperti amonium sulfat, yang berfungsi
membantu bakteri dalam mensintesis asam amino methionine (JALAHUDIN, 1994).
Pengkajian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perlakuan defaunasi
sebagai salah satu bentuk teknologi pakan alternatif terhadap tingkat efisiensi
usaha sapi perah kondisi rakyat, dengan sasaran dapat meningkatkan konversi
pakan konsentrat terhadap produksi ransum menjadi sekitar 1:2 dan meningkatkan
kualitas produksi susunya.
2.
METODE
( PROSEDUR KERJA)
Sapi
perah tingkat laktasi II-IV, bulan laktasi ke 2–5 dengan produksi susu antara
8–15
liter/hari,
sebanyak 13 ekor milik 11 peternak, digunakan sebagai materi pengkajian.
Pendekatan
metode analisis sebelum dan selama perlakuan, digunakan untuk melihat dampak
penerapan
pakan alternatif melalui perlakuan rakitan teknologi manipulasi nutrisi di
rumen (sebagai ransum pakan alternatif) terhadap peningkatan produksi susu dan
efisiensi ekonomi usaha serta modifikasi teknologi (fine tuning) dalam
kondisi biofisik sosial ekonomi dan lingkungan lokasi pengkajian yang telah
ditetapkan. Secara rinci, pelaksanaannya yaitu:
Periode
I:
minggu ke 1 sampai ke 2 (14 hari), merupakan pelaksanaan perlakuan ransum pola peternak
sebagai kontrol
Periode
II:
minggu ke 4 sampai ke 7 (21 hari), merupakan pelaksanaan perlakuan rakitan
teknologi manipulasi nutrisi di rumen kedalam ransum pola peternak sebagai perlakuan.
Diantara
periode I dengan II (minggu ke 3) merupakan masa adaptasi untuk masuk kedalam
rakitan
teknologi.
Penerapan
pakan alternatif melalui perlakuan rakitan teknologi manipulasi nutrisi
terhadap
ransum
pola peternak (kondisi ex-post) adalah sbb:
•
Pemberian minyak kelapa 1,5% dari bahan kering ransum pada hari pertama di
minggu ke 3
dan
ke 4, serta hari keempat pada minggu ke 5.
•
Pemberian minyak ikan 1,5% dari bahan kering ransum, setiap 3 hari dimulai pada
hari
pertama
di minggu ke 3
•
Pupuk urea 1,0%, amonium sulfat 0,7% dan tetes 6% dari bahan kering ransum,
setiap hari
dimulai
pada minggu ke 3.
Tujuan
pemberian minyak kelapa adalah untuk mengurangi/meniadakan mikro- fauna
protozoa,
minyak ikan/biji kapok untuk mereduksi remisi gas metan, urea untuk
suplementasi NPN, amonium sulfat untuk suplementasi sulfur, dan tetes untuk
suplementasi karbohidrat mudah larut. Bahan-bahan tersebut dicampur dengan
pakan konsentrat..
3.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A. Konsumsi zat nutrisi bahan kering (BK) dan protein
kasar (PK) ransum
Perlakuan
defaunasi pada sapi perah laktasi, secara sangat nyata mampu menurunkan
konsumsi bahan kering konsentrat sampai 2,933 kg/ekor/hari atau 33,95% nya.
Sebagai mana dikatakan Sutardi (1999), diduga perlakuan defaunasi pada
pengkajian ini telah berhasil mengurangi jumlah populasi mikrofauna protozoa
dan meningkatkan jumlah populasi mikroflora bakteri di dalam rumen ternak yang
cukup significant. Hasilnya adalah degradasi zat-zat nutrisi konsentrat menjadi
senyawa-senyawa yang terbuang sia-sia di dalam rumen (Sutanto, 1994; Hoaglund at
al., 1992), dapat dikurangi sehingga konsentrat yang dikonsumsi ternak
dapat dihemat. Tidak diikuti oleh penurunan konsumsi hijauan yang nyata,
walaupun penurunan kosumsi bahan kering konsentrat tersebut secara sangat nyata
(P<0,01) berhasil juga menurunkan total konsumsi bahan kering ransum hingga
20,33% (dari 15,769 menjadi 12,563 kg/ekor/hari). Hasilnya, total konsumsi
bahan kering ransum oleh ternak dapat mencapai angka sekitar 3% dari berat
badan ternak, yaitu suatu patokan dasar tentang jumlah konsumsi bahan kering
ransum ternak ruminansia besar yang telah lama direkomendasikan oleh banyak
pihak terkait. Perlakuan defaunasi juga nyata menurunkan total konsumsi protein
kasar ransum. Apabila melihat kebutuhan minimal protein kasar ransum dari sapi
perah yang digunakan sebagai materi pengkajian adalah sekitar 373+(91,35 x
produksi susu, yaitu 11,3 liter)=1405 gr/ekor/hari (NRC, 1978) yang disitasi
Tillman et al., 1983).Tampak bahwa penurunan konsumsi protein kasar
ransum tersebut menunjukkan hasil dari upaya peningkatan efisiensi
penggunaannya, yaitu pembuangan sia-sia gas NH3 dari hasil degradasi protein
(Sutardi, 1999) dapat dikurangi karena populasi protozoa 185 yang menurun dan
digunakan oleh bakteri untuk meningkatkan sintesa asam amino (Jalahudin,1999).
B. Produksi dan kualitas susu
Perlakuan defaunasi pada sapi perah
laktasi mampu meningkatkan jumlah produksi susu, tetapi nyata mampu
meningkatkan kualitas susunya, yaitu: secara sangat nyata (P<0,01) mampu
meningkatkan kandungan bahan kering susu dan menurunkan derajat keasaman susu,
serta secara nyata (P<0,05) meningkatkan kadar lemak dan casein susu yang
dihasilkan ternak.. Kadar lemak susu yang meningkat, mempunyai nilai ekonomi
yang tersendiri bagi peternak, karena sampai sekarang pihak penampung susu
(koperasi) maupun IPS (Industri Pengolahan Susu) masih menggunakan kadar lemak
sebagai salah satu patokan penentuan harga susu. Beberapa peternak responden
menyebutkan bahwa susu yang dihasilkan selama perlakuan defaunasi, harga per liternya
mengalami peningkatan antara 9–28%, karena adanya peningkatan kadar lemak.
Kadar casein susu yang meningkat dapat digunakan sebagai salah satu indikator
dari terjadinya peningkatan kualitas susu, karena casein adalah asam amino yang
menyusun sekitar 80% dari protein susu (Purnomo dan Adiono, 1987). Derajat
keasaman susu yang mengalami penurunan sangat nyata (P<0,01), menunjukkan
bahwa susu yang dihasilkan akan dapat lebih lama disimpan. Derajat keasaman
susu yang normal adalah berkisar pada pH 6–9 dengan kondisi ideal antara pH
6,6–6,7. Derajat keasaman susu yang mengarah ke basa, disamping menjadi
indikator terjadinya proses penurunan kualitas susu (rusak/pecah), juga akan
menjadi media yang lebih ideal untuk tumbuh dan berkembangnya mikrobia patogen susu
(Purnomo dan Adiono, 1987). Melalui perlakuan defaunasi dapat dihasilkan susu
yang mempunyai derajat keasaman yang lebih rendah (mengarah ke pH normal).
C. Nilai
konversi ransum
Perlakuan
defaunasi, secara sangat nyata (P<0,01) mampu meningkatkan nilai konversi
ransum (yaitu penurunan jumlah konsumsi bahan kering ransum tapi tidak diikuti
dengan penurunan jumlah produksi susu), sehingga meningkatkan produksi susu
untuk per kg konsentrat/ransum yang dikonsumsi ternak. Nilai perbandingan
(konversi) antara jumlah produksi susu dengan per kg konsentrat yangdikonsumsi
ternak selama defaunasi, adalah berkisar 2:1. Nilai konversi ini sangat
diharapkan oleh peternak sapi perah rakyat, karena rekomendasi dari koperasi
susu adalah seorang peternak akan mendapat jatah 1 kg pakan konsentrat harga
subsidi untuk setiap 2 liter susu yang disetorkan ke koperasi. Terjadinya
peningkatan efisiensi konsumsi bahan kering konsentrat selama defaunasi sebesar
33,95% (dari 8,638 menjadi 5,705 kg/ekor/hari, Tabel 1) dan mengingat konsumsi
bahan kering konsentrat merupakan 45,41% (5,705 dari 12,563 kg/ekor/hari, Tabel
1) dari total konsumsi bahan kering ransumnya, maka melalui perlakuan defaunasi
pada sapi perah laktasi dapat secara nyata meningkatkan efisiensi penggunaan
ransum. Setiap liter produksi susu membutuhkan 1,44 kg bahan kering ransum,
menjadi hanya 1,09 kg. Mampu meningkatkan produktivitas ternak sapi perah
laktasi.
D. Nilai ekonomis teknologi defaunasi
Melalui
perlakuan defaunasi, keuntungan peternak sapi perah dengan rata-rata produksi
susu sapinya 11 liter/ekor/hari, adalah dapat ditingkatkan sebesar Rp. 656,00.
Peningkatan pendapatan ini sebagian besar berasal dari hasil penghematan biaya
pakannya dan ditunjang dengan peningkatan harga hasil susunya. Adanya
penambahan bahan-bahan untuk defunasi (minyak, urea, amonium sulfat dan tetes)
menyebabkan terjadinya peningkatan biaya ransum ternak, namun karena mampu
menurunkan konsumsi konsentrat dan meningkatkan harga susu.
E.
Respon peternak terhadap teknologi defaunasi
Setelah
3 bulan dari berakhirnya kegiatan pengkajian, diketahui bahwa secara umum
respon
peternak
terhadap teknologi defaunasi adalah cukup bagus. Namun adanya beberapa kendala
berupa usaha yang masih sendiri sendiri dengan jumlah pemilikan ternak yang
masih sedikit, serta sulitnya mendapatkan bahan tetes dan amonium sulfat dalam
jumlah yang sedikit, menyebabkan upaya untuk meneruskan perlakuan defaunasi
pasca pengkajian menjadi hanya sekitar 1–2 bulan dan hanya dilakukan oleh 6
responden saja. Bentuk usaha sapi perah secara berkelompok atau dengan jumlah
pemilikan sapi yang lebih besar, diharapkan mampu mengurangi kendala upaya
adopsi teknologi defaunasi ini.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil pengkajian ini dapat disimpulkan bahwa teknologi pakan alternatif berupa
perlakuan
defaunasi terhadap konsentrat sapi perah adalah:
a. mampu
meningkatkan produktivitas usaha sapi perah kondisi peternakan rakyat.
b. peternak
mempunyai alternatif peluang untuk lebih mengefisienkan atau mengurangi
kerugian biaya usaha sapi perahnya, terutama pada saat menghadapi permasalahan
sulitnya mendapatkan pakan konsentrat (harga maupun jumlah).

0 komentar:
Posting Komentar