Pages

Jumat, 27 Desember 2013

Resume Jurnal



Nama                          : Qurrotul A’yunina Hadifah
Nim                             : 23010113140166
Kelas/Jurusan           : D/S1-Peternakan

Download Jurnal

PENGARUH TEKNOLOGI DEFAUNASI PADA RANSUM TERHADAP
PRODUKTIVITAS TERNAK SAPI PERAH RAKYAT
(The Effect of Defaunation Technology on Ration for Dairy Cow Productivity in Smallholder
Farmer Condition)

ARYOGI1, M. ALI YUSRAN1, U. UMIYASIH1, A. RASYID1, L. AFFANDHY1 dan H. ARIANTO2
1Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Grati-Pasuruan
2Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Wonocolo-Surabaya
ABSTRAK
Pengkajian ini bertujuan mengetahui tingkat efisiensi perlakuan defaunasi sebagai salah satu bentuk teknologi pakan alternatif untuk meningkatkan efisiensi produksi dan ekonomi usaha sapi perah kondisi rakyat. Materi pengkajian adalah 13 ekor sapi perah
laktasi milik peternak rakyat di desa Pagelaran Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Pada ransum sapi perah pola peternak tersebut, ditambahkan bahan-bahan (dasar bahan kering ransum) minyak kelapa 1,5% pada awal masa adaptasi serta awal dan pertengahan perlakuan; minyak ikan 1,5% setiap 3 hari selama perlakuan serta pupuk urea 1,0%, amonium sulfat 0,7% dan molasses/tetes 6,0% setiap hari selama perlakuan. Pendekatan metode analisis sebelum dan selama perlakuan digunakan dalam pelaksanaan pengkajian, yaitu periode kontrol selama 14 hari dengan ransum pola peternak, periode adaptasi selama 7 hari dengan ransum perlakuan dan periode perlakuan selama 21 hari dengan ransum perlakuan. Parameter yang diamati meliputi data teknis (produksi dan kualitas susu serta konsumsi dan konversi ransum) dan data sosial ekonomi (nilai profit ekonomi dan respon peternak terhadap teknologi pengkajian). Metode analisis statistik yang digunakan adalah uji t berpasangan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa, perlakuan defaunasi terhadap sapi perah laktasi secara nyata mampu meningkatkan konversi ransum (0,695 vs 0,917), kualitas produksi susu, keuntungan peternak (Rp. 565/ekor/hari) dan mendapatkan respon positif dari peternak.
Kata kunci: Teknologi defaunasi, ransum, produktivitas sapi perah.
1.      PENDAHULUAN
Hasil penelitian SOETANTO (1994) menunjukkan dari 10 jenis pakan konsentrat komersial sapi perah yang beredar di pasaran, ternyata angka degradabilitasnya adalah sangat tinggi (80,91– 94,05%), sehingga menurut HOAGLUND et al. (1992) sebagian besar kandungan zat-zat nutrisinya akan terdegradasi oleh mikrobia rumen menjadi senyawa-senyawa yang tidak dapat dimanfaatkan ternak. Implikasi hasil penelitian tersebut, tingkat efisiensi pemanfaatan konsentrat oleh ternak menjadi cukup rendah. Teknologi pakan alternatif pada ternak ruminansia adalah mencakup dua hal, yaitu: (1) teknologi pengolahan bahan-bahan pakan untuk meningkatkan kualitas zat-zat nutrisinya, dan (2) teknologi penyiapan bahan-bahan pakan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan zat-zat nutrisinya. Defaunasi adalah suatu teknik manipulasi fermentasi dalam rumen ternak, melalui peniadaan mikrofauna “protozoa”, yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan zat nutrisi ransum yang tinggi angka degradabilitasnya (SUTARDI, 1999). Di dalam rumen ternak, terdapat mikrobia protozoa dan bakteri yang membantu proses pencernaan fermentatif (WILSON et al., 1998). Mikrobia protozoa akan menghasilkan gas NH3 di dalam rumen ternak. Apabila teknik defaunasi diterapkan maka akan terjadi penurunan kadar NH3, sehingga perlu adanya penambahan urea (SUTARDI, 1999). Disamping itu perlu ditambahkan prekursor methionine seperti amonium sulfat, yang berfungsi membantu bakteri dalam mensintesis asam amino methionine (JALAHUDIN, 1994). Pengkajian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perlakuan defaunasi sebagai salah satu bentuk teknologi pakan alternatif terhadap tingkat efisiensi usaha sapi perah kondisi rakyat, dengan sasaran dapat meningkatkan konversi pakan konsentrat terhadap produksi ransum menjadi sekitar 1:2 dan meningkatkan kualitas produksi susunya.

2.      METODE ( PROSEDUR KERJA)
Sapi perah tingkat laktasi II-IV, bulan laktasi ke 2–5 dengan produksi susu antara 8–15
liter/hari, sebanyak 13 ekor milik 11 peternak, digunakan sebagai materi pengkajian.
Pendekatan metode analisis sebelum dan selama perlakuan, digunakan untuk melihat dampak
penerapan pakan alternatif melalui perlakuan rakitan teknologi manipulasi nutrisi di rumen (sebagai ransum pakan alternatif) terhadap peningkatan produksi susu dan efisiensi ekonomi usaha serta modifikasi teknologi (fine tuning) dalam kondisi biofisik sosial ekonomi dan lingkungan lokasi pengkajian yang telah ditetapkan. Secara rinci, pelaksanaannya yaitu:
Periode I: minggu ke 1 sampai ke 2 (14 hari), merupakan pelaksanaan perlakuan ransum pola peternak sebagai kontrol
Periode II: minggu ke 4 sampai ke 7 (21 hari), merupakan pelaksanaan perlakuan rakitan teknologi manipulasi nutrisi di rumen kedalam ransum pola peternak sebagai perlakuan.
Diantara periode I dengan II (minggu ke 3) merupakan masa adaptasi untuk masuk kedalam
rakitan teknologi.
Penerapan pakan alternatif melalui perlakuan rakitan teknologi manipulasi nutrisi terhadap
ransum pola peternak (kondisi ex-post) adalah sbb:
• Pemberian minyak kelapa 1,5% dari bahan kering ransum pada hari pertama di minggu ke 3
dan ke 4, serta hari keempat pada minggu ke 5.
• Pemberian minyak ikan 1,5% dari bahan kering ransum, setiap 3 hari dimulai pada hari
pertama di minggu ke 3
• Pupuk urea 1,0%, amonium sulfat 0,7% dan tetes 6% dari bahan kering ransum, setiap hari
dimulai pada minggu ke 3.
Tujuan pemberian minyak kelapa adalah untuk mengurangi/meniadakan mikro- fauna
protozoa, minyak ikan/biji kapok untuk mereduksi remisi gas metan, urea untuk suplementasi NPN, amonium sulfat untuk suplementasi sulfur, dan tetes untuk suplementasi karbohidrat mudah larut. Bahan-bahan tersebut dicampur dengan pakan konsentrat..
                                                                                                                          
3.      HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Konsumsi zat nutrisi bahan kering (BK) dan protein kasar (PK) ransum

Perlakuan defaunasi pada sapi perah laktasi, secara sangat nyata mampu menurunkan konsumsi bahan kering konsentrat sampai 2,933 kg/ekor/hari atau 33,95% nya. Sebagai mana dikatakan Sutardi (1999), diduga perlakuan defaunasi pada pengkajian ini telah berhasil mengurangi jumlah populasi mikrofauna protozoa dan meningkatkan jumlah populasi mikroflora bakteri di dalam rumen ternak yang cukup significant. Hasilnya adalah degradasi zat-zat nutrisi konsentrat menjadi senyawa-senyawa yang terbuang sia-sia di dalam rumen (Sutanto, 1994; Hoaglund at al., 1992), dapat dikurangi sehingga konsentrat yang dikonsumsi ternak dapat dihemat. Tidak diikuti oleh penurunan konsumsi hijauan yang nyata, walaupun penurunan kosumsi bahan kering konsentrat tersebut secara sangat nyata (P<0,01) berhasil juga menurunkan total konsumsi bahan kering ransum hingga 20,33% (dari 15,769 menjadi 12,563 kg/ekor/hari). Hasilnya, total konsumsi bahan kering ransum oleh ternak dapat mencapai angka sekitar 3% dari berat badan ternak, yaitu suatu patokan dasar tentang jumlah konsumsi bahan kering ransum ternak ruminansia besar yang telah lama direkomendasikan oleh banyak pihak terkait. Perlakuan defaunasi juga nyata menurunkan total konsumsi protein kasar ransum. Apabila melihat kebutuhan minimal protein kasar ransum dari sapi perah yang digunakan sebagai materi pengkajian adalah sekitar 373+(91,35 x produksi susu, yaitu 11,3 liter)=1405 gr/ekor/hari (NRC, 1978) yang disitasi Tillman et al., 1983).Tampak bahwa penurunan konsumsi protein kasar ransum tersebut menunjukkan hasil dari upaya peningkatan efisiensi penggunaannya, yaitu pembuangan sia-sia gas NH3 dari hasil degradasi protein (Sutardi, 1999) dapat dikurangi karena populasi protozoa 185 yang menurun dan digunakan oleh bakteri untuk meningkatkan sintesa asam amino (Jalahudin,1999).

B.     Produksi dan kualitas susu
Perlakuan defaunasi pada sapi perah laktasi mampu meningkatkan jumlah produksi susu, tetapi nyata mampu meningkatkan kualitas susunya, yaitu: secara sangat nyata (P<0,01) mampu meningkatkan kandungan bahan kering susu dan menurunkan derajat keasaman susu, serta secara nyata (P<0,05) meningkatkan kadar lemak dan casein susu yang dihasilkan ternak.. Kadar lemak susu yang meningkat, mempunyai nilai ekonomi yang tersendiri bagi peternak, karena sampai sekarang pihak penampung susu (koperasi) maupun IPS (Industri Pengolahan Susu) masih menggunakan kadar lemak sebagai salah satu patokan penentuan harga susu. Beberapa peternak responden menyebutkan bahwa susu yang dihasilkan selama perlakuan defaunasi, harga per liternya mengalami peningkatan antara 9–28%, karena adanya peningkatan kadar lemak. Kadar casein susu yang meningkat dapat digunakan sebagai salah satu indikator dari terjadinya peningkatan kualitas susu, karena casein adalah asam amino yang menyusun sekitar 80% dari protein susu (Purnomo dan Adiono, 1987). Derajat keasaman susu yang mengalami penurunan sangat nyata (P<0,01), menunjukkan bahwa susu yang dihasilkan akan dapat lebih lama disimpan. Derajat keasaman susu yang normal adalah berkisar pada pH 6–9 dengan kondisi ideal antara pH 6,6–6,7. Derajat keasaman susu yang mengarah ke basa, disamping menjadi indikator terjadinya proses penurunan kualitas susu (rusak/pecah), juga akan menjadi media yang lebih ideal untuk tumbuh dan berkembangnya mikrobia patogen susu (Purnomo dan Adiono, 1987). Melalui perlakuan defaunasi dapat dihasilkan susu yang mempunyai derajat keasaman yang lebih rendah (mengarah ke pH normal).


C. Nilai konversi ransum
Perlakuan defaunasi, secara sangat nyata (P<0,01) mampu meningkatkan nilai konversi ransum (yaitu penurunan jumlah konsumsi bahan kering ransum tapi tidak diikuti dengan penurunan jumlah produksi susu), sehingga meningkatkan produksi susu untuk per kg konsentrat/ransum yang dikonsumsi ternak. Nilai perbandingan (konversi) antara jumlah produksi susu dengan per kg konsentrat yangdikonsumsi ternak selama defaunasi, adalah berkisar 2:1. Nilai konversi ini sangat diharapkan oleh peternak sapi perah rakyat, karena rekomendasi dari koperasi susu adalah seorang peternak akan mendapat jatah 1 kg pakan konsentrat harga subsidi untuk setiap 2 liter susu yang disetorkan ke koperasi. Terjadinya peningkatan efisiensi konsumsi bahan kering konsentrat selama defaunasi sebesar 33,95% (dari 8,638 menjadi 5,705 kg/ekor/hari, Tabel 1) dan mengingat konsumsi bahan kering konsentrat merupakan 45,41% (5,705 dari 12,563 kg/ekor/hari, Tabel 1) dari total konsumsi bahan kering ransumnya, maka melalui perlakuan defaunasi pada sapi perah laktasi dapat secara nyata meningkatkan efisiensi penggunaan ransum. Setiap liter produksi susu membutuhkan 1,44 kg bahan kering ransum, menjadi hanya 1,09 kg. Mampu meningkatkan produktivitas ternak sapi perah laktasi.

D.    Nilai ekonomis teknologi defaunasi
Melalui perlakuan defaunasi, keuntungan peternak sapi perah dengan rata-rata produksi susu sapinya 11 liter/ekor/hari, adalah dapat ditingkatkan sebesar Rp. 656,00. Peningkatan pendapatan ini sebagian besar berasal dari hasil penghematan biaya pakannya dan ditunjang dengan peningkatan harga hasil susunya. Adanya penambahan bahan-bahan untuk defunasi (minyak, urea, amonium sulfat dan tetes) menyebabkan terjadinya peningkatan biaya ransum ternak, namun karena mampu menurunkan konsumsi konsentrat dan meningkatkan harga susu.

E. Respon peternak terhadap teknologi defaunasi
Setelah 3 bulan dari berakhirnya kegiatan pengkajian, diketahui bahwa secara umum respon
peternak terhadap teknologi defaunasi adalah cukup bagus. Namun adanya beberapa kendala berupa usaha yang masih sendiri sendiri dengan jumlah pemilikan ternak yang masih sedikit, serta sulitnya mendapatkan bahan tetes dan amonium sulfat dalam jumlah yang sedikit, menyebabkan upaya untuk meneruskan perlakuan defaunasi pasca pengkajian menjadi hanya sekitar 1–2 bulan dan hanya dilakukan oleh 6 responden saja. Bentuk usaha sapi perah secara berkelompok atau dengan jumlah pemilikan sapi yang lebih besar, diharapkan mampu mengurangi kendala upaya adopsi teknologi defaunasi ini.

4.      KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengkajian ini dapat disimpulkan bahwa teknologi pakan alternatif berupa
perlakuan defaunasi terhadap konsentrat sapi perah adalah:
a. mampu meningkatkan produktivitas usaha sapi perah kondisi peternakan rakyat.
b. peternak mempunyai alternatif peluang untuk lebih mengefisienkan atau mengurangi kerugian biaya usaha sapi perahnya, terutama pada saat menghadapi permasalahan sulitnya mendapatkan pakan konsentrat (harga maupun jumlah).

0 komentar:

Posting Komentar