Pages

Sabtu, 28 Desember 2013

Makalah Ternak Sebagai Sumber Pangan Hewani



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.      Latar Belakang
Di dunia ini terdapat banyak jenis bahan bahan pangan. Bahan pangan adalah bahan yang memungkinkan seseorang untuk tumbuh dan berkembang serta mampu beraktivitas dan memelihara kondisi tubuh. Bahan pangan berguna untuk membangun sel-sel tubuh dan menjaga agar tetap sehat. Bahan pangan didunia ini
sangat beragam, salah satunya adalah pakan hewani, saat ini permintaan dunia terhadap pangan hewani (daging , telur dan susu serta olahan lainnya) sangat besar dan diperkirakankan akan meningkat sangat pesat selama delapan tahun kedepan khususnya untuk Negara-negara berkembang.
Pangan dan gizi mempunyai peranan setrategis dalam pembangunan bangsa. Secara tegas dijelaskan dalam penjelasan atas undang-undang No. 6 Tahun 1996 tentang pangan, yang dinyatakan bahwa kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya merupakan hak asasi setiap rakyat indonesia harus senantiasa tersedia cukup setiap waktu, aman, bermutu, bergizi dan beragam dengan harga terjangkau.
Fenomena yang terus berkembang yaitu adanya kesadaran kuat dari berbagai kalangan bahwa pangan dan gizi mempunyai peranan sangat yang kuat dalam membentuk suatu individu yang sehat dan produktif.
Komoditas pangan yang dapat memenuhi kebutuhan akan gizi diantaranya bersumber dari pangan hewani, seperti daging, ikan, telur, susu dan unggas, banyak mengandung gizi dan nutrisi yang memiliki komposisi kimia yang diperlukan bagi kehidupan manusia. Untuk memudahkan konsumsi pangan hewani, berbagai cara dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Pangan hewani (daging, ikan, unggas, telur dan susu) termasuk makanan yang mudah rusak jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Hal ini akan berdampak pada penurunan kualitas yang pada akhirnya berdampak pada kuantitas. Untuk mendapatkan mutu pangan hewani yang baik, sebelum melakukan pengolahan, sebaiknya dipahami terlebih dahulu mengenai perubahan – perubahan yang terjadi setelah fisiologi pasca mortem, komposisi, mutu dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Produk pengolahan pangan  hewani tidak dapat disimpan lama dalam suhu ruang. Masa simpan bahan pangan hewani dapat diperpanjang dengan disimpan pada suhu rendah, dikeringkan, difermentasi, disterilisasi. Penyimpanan pada suhu rendah dilakukan untuk memperlambat reaksi metabolisme. Selain itu juga dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme penyebab kerusakan atau kebusukan bahan pangan.   
1.2       Maksud dan tujuan penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai syarat dan tugas mengikuti Ujian Tengah Semester  (UTS) Pengantar Ilmu dan Industri Peternakan, serta untuk  mengetahui peranan ternak sebagai sumber pangan hewani bagi manusia,dan mengetahui fenomena-fenomena dunia yang terancam kekurangan bahan pakan hewani sehingga kita dapat mengelola peternakan  dengan maksimal.

1.3.Manfaat Makalah
Manfaat dari makalah ini adalah untuk mengetahui seberapa besar peran ternak  terhadap pemenuhan pangan hewani serta pemenuhan gizi bagi manusia dan dapat membuka cakrawala fenomena dunia yang terancam kekurangan pakan dan dapat memahami serta mengelola sumber pakan hewani secara optimal.

 1.5.Rumusan Masalah
Ada beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain :
1.5.1 Apakah Pengertian Ternak Dan  pangan  ?
1.5.2 Berapa besar Tingkat konsumsi gizi pangan hewani di Indonesia ?
1.5.3 Apakah Manfaat unsur gizi dan protein hewani ?
1.5.4 Apa saja produk peternakan itu ?
1.5.5 Bagaimana upaya dalam penyedian pangan hewani yang aman di Indonesia ? 
  
  
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada tahun 2000, konsumsi daging unggas penduduk Indonesia hanya 3,5 kg/kapita/tahun, sedangkan konsumsi penduduk Malaysia (36,7 kg), Thailand (13,5 kg), Fhilipina (7,6 kg), Vietnam (4,6 kg) dan Myanmar (4,2 kg) Malaysia 100 gram/kapita/hari. Sedangkan Konsumsi daging unggas penduduk Indonesia hanya 10 gram/kapita/hari, (Poultry International, 2003 dalam Rusfidra, 2007a,b).
Begitupun konsumsi telur penduduk Indonesia baru 2,7 kg/kapita/tahun, sedangkan Malaysia 14,4 kg, Thailand 9,9 kg dan Fhilipina 6,2 kg. Bila satu kilogram telur rata-rata terdiri atas 17 butir, maka konsumsi telur penduduk Indonesia hanya sekitar 46 butir/kapita/tahun atau 1/8 butir/kapita/hari. Pada periode yang sama, penduduk Malaysia setiap tahunnya memakan 245 butir telur atau 2/3 butir telur/kapita/hari. Konsumsi susu masyarakat Indonesia sangat rendah, yakni sekitar 7 kg /kapita /tahun, Malaysia mencapai 20 kg/kapita/tahun, sedangkan masyarakat Amerika  Serikat mengkonsumsi susu 100 kg/kapita/tahun. Konsumsi daging, telur dan susu yang rendah menyebabkan target konsumsi protein hewani sebesar 6 gram/kapita/hari masih jauh dari harapan (Tuminga et. al. 1999).
Delgado et. al (1999) menduga akan terjadi peningkatan produksi dan konsumsi pangan hewani dimasa depan. Di dalam artikel “Peternakan 2020: Revolusi Pangan Masa Depan”, mereka menduga konsumsi daging penduduk dunia akan meningkat dari 233 juta ton (tahun 2000) menjadi 300 juta ton (tahun 2020). Konsumsi susu meningkat dari 568 juta ton (tahun 2000) menjadi 700 juta ton pada tahun 2020, sedangkan konsumsi telur diperkirakan mencapai 55 juta ton. Hal itu disebabkan meningkatnya jumlah penduduk dunia, meningkatnya kesejahteraan dan meningkatnya kesadaran gizi masyarakat dunia.
Protein hewani memiliki komposisi asam amino yang lengkap dan dibutuhkan tubuh. Nilai hayati protein hewani relatif tinggi, banyak nitrogen (N) dari suatu protein dalam pangan yang dimanfaatkan oleh tubuh untuk pembuatan protein tubuh. Semakin tinggi nilai hayati protein suatu bahan pangan makin banyak zat N dari protein tersebut yang dapat dimanfaatkan untuk pembentukan protein tubuh. Hampir semua pangan asal ternak mempunyai nilai hayati 80 ke atas. Telur memiliki nilai hayati tertinggi yakni 94-100 (Hardjosworo, 1987 dalam Rusfidra, 2005e).

  
BAB III
PEMBAHASAN

3.1.     Pengertian Ternak Dan Pangan      
              Ternak adalah hewan yang dengan sengaja dipelihara sebagai sumber pangan yang bermutu tinggi,Pakaian yang mahal dan prestisius,Hasil samping RPH(Bahan dasar berbagai proses kimiawi dan pakan ternak),Hewan coba(Penemuan IPTEK),Hiburan/hobi, sumber bahan baku industri, atau sebagai pembantu pekerjaan manusia. Usaha pemeliharaan ternak disebut sebagai peternakan (atau perikanan, untuk kelompok hewan tertentu) dan merupakan bagian dari kegiatan pertanian secara umum. Ternak dalam mencukupi kebutuhan non pangan:wool, bulu, dan kulit hewan serta Pupuk kandang.
              Sedangkan arti penting pangan hewani dalam Undang-undang RI No. 7 tahun 1996 tentang Pangan (UU Pangan) disebutkan bahwa pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak azasi setiap rakyat Indonesia. Pangan tersebut dapat berasal dari bahan nabati atau hewani dengan fungsi utama sebagai sumber zat gizi. Pengelompokkan zat gizi secara sederhana ini melahirkan pengelompokkan pangan menjadi 1) pangan sumber zat tenaga ata karbohidrat dan lemak, 2) pangan sumber zat pembangun atau protein, dan 3) pangan sumber zat pengatur atau sumber vitamin dan mineral. Dari segi asal bahannya, pangan tersebut dikelompokkan pada pangan hewani dan pangan nabati; dan pangn hewani dibedakan atas pangan hewani asal produk peternakan (asal ternak) dan pangan hewani asal produk perikanan.
  Pangan hewani mempunyai kebolehan dibanding pangan nabati. Kebolehan tersebut adalah: 1) cita rasa yang lebih enak, menggugah selera makan sehingga zat gizi lain terpenuhi; 2) mengandung protein tinggi dengan daya cerna yang lebih baik sehingga lebih mudah dicerna dan digunakan tubuh; 3) nilai biologis mineral dan vitamin yang lebih baik sehingga lebih efisien digunakan tubuh; dan 4) mengandung asam amino esensial yang lengkap.
Peran berbagai macam kelompok pangan dalam penyediaan pangan di dunia
Kelompok Pangan
Kalori (%)
Protein (%)
Biji-Bijian(Cereals)
49
43
Umbi-umbian
10
10
Kacang-kacangan minyak/Lemak Nabati
8
4
Gula dan Produknya
9
2
Sayur dan Buah
8
7
Daging
7
15
Telur
1
2
Ikan
1
5
Susu
5
11


3.2.     Tingkat Konsumsi Gizi Pangan Hewani Di Indonesia
              Tingkat konsumsi pangan hewani masyarakat indonesia masih dibawah rata-rata kecukupan gizi Dan dinilai masih jauh dibawah kecukupan gizi yang dianjurkan..Konsumsi masyarakat Indonesia kebanyakan lebih mementingkan kekenyangan dari pada kecukupan gizi, mereka makan dengan porsi nasi yang banyak dan lauknya sedikit, hal ini menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat indonesia masih dibawah rata-rata kecukupan gizi, padahal di Indonesia produk pangan hewani sangat banyak seperti telur,daging dan susu yang ketiganya tadi mengandung cukup gizi. Konsumsi pangan hewan dibeberapa negara ASEAN juga relatif tinggi, di bandingkan di indonesia yaitu Philippina 18,8 kg/kap/th, Malaysia 22,5 kg/kap/th, Thailand 28,0 kg/kap/th dan Singapura 32 kg/kap/th (Haryono, 2007).
Berdasarkan analisis dari Pola Pangan Harapan (PPH), tingkat konsumsi masyarakat Indonesia akan protein asal ternak baru mencapai 5,1 g/kap/hr yang setara dengan konsumsi susu 7,5 kg/kap/th, daging 7,7 kg/kap/th, dan telur 4,7 kg/kap/th (Dirjen Bina Produksi Peternakan, 2004). Tingkat konsumsi protein hasil ternak tersebut terhitung kecil dibanding jumlah konsumsi protein (total nabati dan hewani) yang dianjurkan sebesar 46,2 g/kap/hr (Tranggono, 2004). Sebagai pembanding, konsumsi susu di Amerika, Jepang dan beberapa negara Eropa sudah lebih dari 80 kg/kap/th.
            Analisis paling akhir oleh Prof. I.K Han, guru besar Ilmu Produksi Ternak Universitas Nasional Seoul (1999) menyatakan adanya relasi positif antara tingkat konsumsi protein hewani dengan umur harapan hidup (UHH) dan pendapatan perkapita. Makin tinggi konsumsi protein hewani penduduk, makin tinggi UHH dan pendapatan domestik brutto (PDB) suatu negara. Masyarakat di beberapa negara berkembang seperti Korea, Brazil, China, Fhilipina dan Afrika Selatan memiliki konsumsi protein hewani 20-40 gram/kapita/hari, UHH penduduknya 65-75 tahun. Negara-negara maju seperti AS, Prancis, Jepang, Kanada dan Inggris konsumsi protein hewani masyarakatnya 50-80 gram/kapita/hari, UHH penduduknya 75-85 tahun. Sementara itu, negara-negara yang konsumsi protein hewaninya di bawah 10 gram/kapita/hari seperti Banglades, India dan Indonesia, UHH penduduknya hanya 55-65 tahun (Han, 1999).
Delgado et. al (1999) menduga akan terjadi peningkatan produksi dan konsumsi pangan hewani dimasa depan. Di dalam artikel “Peternakan 2020: Revolusi Pangan Masa Depan”, mereka menduga konsumsi daging penduduk dunia akan meningkat dari 233 juta ton (tahun 2000) menjadi 300 juta ton (tahun 2020). Konsumsi susu meningkat dari 568 juta ton (tahun 2000) menjadi 700 juta ton pada tahun 2020, sedangkan konsumsi telur diperkirakan mencapai 55 juta ton. Hal itu disebabkan meningkatnya jumlah penduduk dunia, meningkatnya kesejahteraan dan meningkatnya kesadaran gizi masyarakat dunia.
Konsumsi protein hewani yang rendah dapat berdampak pada tingkat kecerdasan dan kualitas hidup penduduk. Negara Malaysia yang pada tahun 1970-an mendatangkan guru-guru dari Indonesia, sekarang jauh meninggalkan Indonesia, terutama dalam kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagaimana ditunjukkan oleh peringkat Human Development Indeks (HDI) tahun 2004 yang dikeluarkan United Nation Development Program (UNDP). Dalam periode tersebut, Indonesia berada pada peringkat ke-111, satu tingkat di atas Vietnam (112), namun jauh di bawah negara ASEAN lainnya, Singapura (peringkat 25), Malaysia (59), Thailand (76) dan Fhilipina (83) (Rusfidra, 2006a).

   3.3.  Manfaat Unsur Gizi Dan Protein Hewani
              Pangan hewani asal ternak mempunyai kebolehan dari segi kandungan vitamin, kandungan mineral dan zat gizi lainnya. Dari segi vitamin, pangan hewani asal ternak mempunyai keunggulan : 1) kaya kandungan vitamin B12 yang penting untuk pembentukan sel darah merah, sintesisi DNA, kenormalan fungsi syaraf dan kecerdasan; 2) kaya akan kholin sejenis vitamin B yang berperan mengendalikan kadar kolesterol dan meningkatkan daya ingat; 3) kaya akan vitamin B6 yang penting untuk metabolisme asam nukleat, penggunaan protein dalam pembentukan jaringan, produksi sel darah merah dan meningkatkan kekebalan tubuh. Hal ini dibuktikan dengan kecerdasan anak, terutama aspek motorik dan kognitif, berkaitan erat dengan kecukupan zat gizi mikro terutama gizimikro seperti zat besi, iodium vitamin B6, asam folat dan vitamin B12 yang banyak terdapat dalam pangan hewani Mekanisme peran vitamin B12 tersebut dalam tubuh adalah melalui peran penting vitamin B12 dalam metabolisme asam lemak esensial untuk pemeliharaan myelin, penyediaan methyl yang diperlukan pada reaksi-rekasi sistem syaraf, dan pembentukan sel darah merah. Defisiensi vitamin B12 dalam waktu lama dapat menyebabkan kerusakan sistem syaraf yang tidak dapat diperbaiki dan akhirnya dapat menyebabkan kematian sel-sel syaraf. 
              Kolin sejenis vitamin B yang banyak dijumpai dalam pangan hewani kolin sebagai zat gizi esensial, artinya perlu dikonsumsi untuk hidup sehat. Defisiensi kolin mengakibatkan gangguan memori dan peningkatan sensitifitas tubuh pada zat karsiogenik. Selain itu defisiensi kolin juga dapat meningkatkan kadar kolesterol dan plasma homocysteine, yang meningkatkan risiko menderita penyakit jantung koroner dalam kekokohan struktur dan selaput sel, dalam melancarkan metabolisme dan pembuangan lemak dan kolesterol, serta melancarkan fungsi hati. Kolin juga bermanfaat dalam pengendalian mood, mengoptimalkan kerja sel-sel saraf dan daya ingat.
              Dari segi mineral, pangan hewani asal trnak mempunyai keunggulan dalam hal: 1) pangan asal ternak tertentu, khususnya susu, kaya akan kalsium yang penting bagi pertumbuhan dan kesehatan; 2) kaya kandungan potasium (kalium) yang penting bagi pengendalian tekanan darah; dan 3) kaya kandungan mineral zat besi (iron) yang berperan dalam pembentukan sel darah merah dan turut menentukan kecerdasan; dan 4) kaya akan mineral lainnya seperti zink yang perlu untuk pertumbuhan, peningkatan imunitas dan pembentukan enzim tubuh.
               Pangan hewani asal ternak, terutama susu, kaya akan asam amino triptofan yang penting bagi pertumbuhan, kesehatan dan pengendalian stres. Pangan hewani asal ternak juga kaya akan lemak dan kolesterol yang dalam jumlah tidak berlebihan bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan, terutama pada anak-anak dan usia muda. Apapun dalam jumlah berlebihan pasti tidak baik bagi kesehatan.
              Studi Monckeberg (1971) dalam Rusfidra (2005c) menunjukkan adanya hubungan tingkat konsumsi protein hewani pada anak usia pra-sekolah. Konsumsi protein hewani yang rendah pada anak usia prasekolah dapat mengakibatkan anak-anak berbakat normal menjadi sub-normal atau bahkan defisien. Peningkatan konsumsi protein hewani dapat mengurangi frekuensi kejadian defisiensi mental. Ironisnya mereka pada umumnya berasal dari keluarga tidakmampu(miskin). Selain untuk kecerdasan, protein hewani dibutuhkan untuk daya tahan tubuh. Shiraki et al. (1972) dalam Rusfidra (2005c) membuktikan peranan protein hewani dalam mencegah terjadinya anemia pada orang yang menggunakan otot untuk bekerja keras. Gejala anemia tersebut dikenal dengan istilah “sport anemia”. Penyakit ini dapat dicegah dengan mengkonsumsi protein yang tinggi, dimana sebanyak 50% dari protein yang dikonsumsi harus berasal dari protein hewani.
Protein hewani diduga berperan terhadap daya tahan eritrosit (sel darah merah) sehingga tidak mudah pecah. Protein hewani juga berperan dalam mempercepat regenerasi sel darah merah. Protein hewani memiliki komposisi asam amino yang lengkap dan dibutuhkan tubuh. Nilai hayati protein hewani relatif tinggi. Nilai hayati menggambarkan berapa banyak nitrogen (N) dari suatu protein dalam pangan yang dimanfaatkan oleh tubuh untuk pembuatan protein tubuh. Semakin tinggi nilai hayati protein suatu bahan pangan makin banyak zat N dari protein tersebut yang dapat dimanfaatkan untuk pembentukan protein tubuh. Hampir semua pangan asal ternak mempunyai nilai hayati 80 ke atas. Telur memiliki nilai hayati tertinggi yakni 94-100 (Hardjosworo, 1987 dalam Rusfidra, 2005e).

 3.4. Produk Peternakan
Produk hasil ternak merupakan bahan pangan yang sangat penting bagi rakyat selain bahan pangan pokok rakyat (beras). Sebagai pendamping sajian makan sehari-hari , bahan pangan hewani merupakan sumber protein penting (selain protein nabati) yang sangat berperan dalam pemenuhan gizi masyarakat. Secara tradisional, sejak dahulu, masyarakat kita sudah menyandingkan produk pangan hewani ini dalam menu makanan sehari-harinya.
Produk pangan hewani umumnya berupa daging, susu, telur dan ikan yang sangat kaya protein. Protein ini juga sangat kaya asam amino esensial yang sangat sesuai dengan kebutuhan manusia. Produk hewani mempunyai peran yang sangat penting, hal ini berkaitan pada asupan kalori-protein yang rendah pada anak balita menyebabkan terganggunya pertumbuhan, meningkatnya resiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, menurunkan performs mereka di sekolah dan menurunkan prokduktivitas tenaga kerja setelah dewasa. Kasus malnutrisi yang sangat parah pada usia balita dapat menyebabkan bangsa ini mengalami loos generation. Akibatnya adalah rendahnya daya saing SDM bangsa ini dalam percaturan global antar bangsa. Berikut adalah sebagian kecil Produk yang dihasilkan dari ternak antara lain :
1.    Daging merupakan salah satu jenis ternak yang hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai bahan pangan, daging merupakan sumber protein hewani dengan kandungan gizi yang cukup lengkap. Dengan meluasnya konsumsi daging, sehingga telah banyak bentuk hasil olahan yang berasal dari daging seperti daging kornet, sosis, dendeng, abon dan daging sapi asap dan lain-lain. Bentuk-bentuk pengolahan ini pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh tingkat ekonomi yang mengolahnya sehingga hasil olahan tersebut dapat juga dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin.
2.    Susu, merupakan salah satu jenis produk ternak yang dapat digunakan sebagai tambahan asupan gizi untuk manusia, susu sapi kaya akan kalsium dan vitamin-vitamin, berikut adalah produk yang bisa dikembangkan oleh susu sapi:
v      Dadih ,dadih bisa dibuat dari susu segar atau susu skim, dadih yang tidak pecah atau padat sangat disenangi, atau dapat juga diberi cita rasa bumbu biasanya ditambahkan gula, garam, air buah atau sale.dadih biasa digunakan untuk hidangan lezat atau bahan-bahan makanan yang termasuk dalam makanan untuk diet-diet dirumah tangga di negara-negara tropik (Bhanumurthi dan trehan, 1970; Rangappa, 1965; Warner, 1951).
v      Mentega dan ghae ,ini umumnya di pakai di rumah-rumah di Afrika dan Asia.  Cara pembuatan mentega dan ghae ini yaitu susu segar yang dikoagolasikan dengan asam, terutama susu kerbau dengan kandungan lemaknya yang tinggi, dapat diaduk-aduk untuk menghasilkan tipe-tipe mentega,ghae , dan dadih (Davies, 1939a; Mahanta, 1964a).
v      Keju, keju yaitu produk-produk tingkat ketiga asam dan atau enzim-enzim. Keju bukan merupakan bahan makanan yang sangat umum di negara tropis, seperti di bagian-bagian dunia beriklim sedang tetapi juga disukai oleh negara yang beriklim panas (assis dan freanssel, 1996) di buat di brassilia.
v      Chenna dan khoa, dua produk susu yang di buat di Asia, biasanya dipaki untuk gula-gula (Rastogi et al., 1996) Khoa mungkin mempunyai 25-30% protein dan sampai 50% air, karena khoa dibuat dengan menguapkan air dari susu segar, perbandingan satu bahan kering susu dengan lainnya sama dalam khoa dengan perbandingan diantara dua bahan kering susus yang sama dalam susu semula. (Rastogi et al., 1996)
v      Susu kental, susu kental dibuat dengan mengentalkan susu dengan menghilangkan sebagian besar airnya dengan cara penguapan. Bahan yang dipakai adalah susu segar atau susu ski, susu segar biasanya di standarkan sebelum dilakukan penguapan(Hunziker, 1949).
v      Susu kering (susu bubuk)makin bertambah lazim di negara-negara tropik, dibuat dengan satu atau dua proses-roller( penggilingan) atau spray drying(pengeringan dengan menyemprotkan). Biaya impor susu bubuk sangat mahal, oleh karena itu penggunaan devisa tidak selalu tersedia dengan mudah bagi perekonomian yang sedang berkembang.
v      Es krim, popularitas es krim sangat meningkat di negara-negara panas sebagai makanan pencuci mulut pada waktu minum teh atau makan malam untuk kelompok-kelompok kecil. Suatu produksi beku sama dengan es krim dibuat dirumah-rumah dan desa-desa india dan pakistan (Davies,1939a; Warner, 1951).
3.      Telur, Telur, paling banyak dipasok oleh ayam ras petelur dan merupakan sumber protein hewani asal ternak termurah dengan harga yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Telur dalam jumlah terbatas juga disumbangkan oleh ayam kampung dan itik petelur. Telur ayamkampung lebih banyak berfungsi sebagai obat (campuran jamu) dibandingkan dikonsumsisecara langsung sebagaimana telur yang dihasilkan oleh ayam petelur. Demikian pula telur itik lebih banyak digunakan untuk produk olahan pangan siap saji seperti martabak dan telur asin,sedangkan konsumsi dengan hanya digoreng atau direbus masih kurang disukai karena agak  berbau anyir. Perlu diingat bahwa permintaan akan telur ayam akan terus meningkat dari tahun ketahun dengan peningkatan yang cukup signifikan dan akan menggeser telur-telur lainnyasebagaimana trend yang ada sekarang (Tangenjaya dan Djayanegara, 2002; Badan LitbangPertanian, 2005b). Peluang ekspor telur unggas cukup sulit karena banyak negara yang telahmencapai swasembada telur.

3.5.  Upaya Dalam Penyedian Pangan Hewani Yang Aman Di Indonesia

Upaya peningkatan ketersediaan pangan menjadi program pemerintah yang sangat sulit dilakukan, terutama di bidang peternakan yang berhubungan dengan swasembada daging. Hal ini terkendala masalah penyediaan bibit, modal serta SDM , lebih dari 90% ternak sapi dipelihara oleh sekitar 6,5 juta rumah tangga di pedesaan dengan pengetahuan peternakan yang minim. Banyak dari peternak sapi potong itu juga telah berusia tua, dengan tingkat pendidikan lulusan sekolah dasar sehingga pengetahuan mereka pun terbatas. Sulitnya memenuhi pangan hewani berupa daging tercermin pada awal pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono dan Jusuf Kalla , program swasembada daging sapi ditargetkan pada tahun 2005, kemudian direfisi 2010 . namun tahun 2010 hal itu juga tidak akan tercapai karena tidak mungkin dalam 2 tahun ditambah populasi bibit sapi 1 juta ekor. Selain tidak ada dana , bibit juga btidak ada. Mentri pertanian sebelumnya, Anton Apriantono, mengakui, program swasembada daging sapi gagal dicapai. Gagalnya program swasembada daging sapi karena laju pertambahan populasi kalah cepat (kompas, 9/9/2009).
Departemen Pertanian menargetkan swasembada daging sapi secara bertahap pada tahun 2014. Melalui sejumlah program, penyediaan daging sapi didalam negeri diproyeksikan meningkat 67% pada tahun 2010 menjadi 90% di tahun 2014. “dengan berbagai upaya ini, populasi sapi potong ditargetkan meningkat dari 12 juta ekor pada tahun 2009 menjadi 14,6 juta ekor pada tahun 2014” kata Suwarno . hal ini disampaikan pada saat memaparkan rencana strategis kecukupan daging 2010-2014 dalam seminar nasional pengembangan ternak potong untuk mewujudkan  program  kecukupan / swasembada daging di Fakultas Petrnakan Universitas GajahMada , Jogjakarta , sabtu (7/11).
Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat negara di dunia, Indonesia termasuk pasar potensial bagi negara-negara lain. Produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi produk peternakan. Hal ini merupakan tantangan besar dalam penyediaan bahan pangan hewani sebagai sumber protein yang dibutuhkan oleh masyarakat. Saat ini konsumsi protein hewani penduduk Indonesia masih sangat rendah yakni 4,5 gram/kapita/hari, sementara konsumsi protein hewani masyarakat dunia adalah 26 gram/kapita/hari (Han, 1999). Peningkatan konsumsi protein hewani dapat dipacu dengan meningkatkan pendapatan rumahtangga dan kesadaran gizi masyarakat.
Merebaknya kasus gizi buruk (malnutrisi) dan busung lapar pada anak-anak usia bawah lima tahun (balita) beberapa waktu lalu sangat merisaukan kita sebagai bangsa. Sesungguhnya, kasus malnutrisi disebabkan kurangnya asupan kalori-protein pada tingkat rumahtangga. Masa balita merupakan “periode emas (the golden age)” pertumbuhan anak manusia dimana sel-sel otak sedang berkembang dengan pesat. Dalam periode ini protein hewani sangat dibutuhkan agar otak berkembang secara optimal, tidak sampai tulalit, (Nadesul, Kompas 9/7/05).
Asupan kalori-protein yang rendah pada anak balita menyebabkan terganggunya pertumbuhan, meningkatnya resiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, menurunkan performans mereka di sekolah dan menurunkan produktivitas tenaga kerja setelah dewasa (Pinstrup-Andersen, 1993 dalam Rusfidra, 2005a). Kasus malnutrisi yang sangat parah pada usia balita dapat menyebabkan bangsa ini mengalami loss generation. Akibat berikutnya adalah rendahnya daya saing SDM bangsa ini dalam percaturan global antar bangsa. Namun sayangnya, ditengah usaha berbagai pihak mempromosikan peningkatan konsumsi protein hewani, negara ini kembali disibukkan oleh merebaknya wabah flu burung. Hingga Januari 2006 jumlah pasien yang diduga terinfeksi flu burung berjumlah 85 orang, dimana 17 pasien diantaranya meninggal dunia. Realitas ini menunjukkan bahwa kasus flu burung masih bersirkulasi di sekitar kita Oleh karena itu, kita berharap kepada aparatur pemerintah (Deptan dan Depkes) agar bekerja dengan visi dan rencana kerja yang sistematis, tidak bekerja serabutan seperti selama ini. Selama ini terkesan birokrat bekerja seperti “pemadam kebakaran”, baru kelihatan program kerjanya setelah timbulnya masalah.
Penularan flu burung selama ini terjadi melalui pernafasan (air borne desease), bukan melalui makanan (food borne desease). Karena itu, kampanye makan daging ayam dan telur secara aman merupakan langkah cerdas untuk memulihkan citra bahwa memakan daging ayam dan telur relatif aman sepanjang kedua komoditi unggas tersebut diolah secara benar sebelum dimakan. Selain itu, juga diperlukan program penyediaan sumber protein hewani yang murah, mudah tersedia, terjangkau dan bergizi tinggi pada tingkat rumahtangga. Dalam konteks ini, program “Family Poultry” layak ditimbang sebagai sebuah solusi mengatasi terjadinya malnutrisi, efektif dalam pengentasan kemiskinan, menjaga ketahanan pangan pada tingkat rumahtangga dan sebagai sumber pendapatan (Rusfidra, 2005a, Rusfidra, 2005c, Rusfidra, 2005d).


BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan
            Dari beberapa disimpulkan bahwa defisiensi Protein, vitamin B12, asam folat, kolin dan zat besi, yang banyak terdapat dalam pangan hewani asal ternak, dapat membantu perkembangan pada anak Sementara perkembangan kognitif berlangsung dalam kurun waktu antara konsepsi sampaii usia 4 tahun, dan 30 % berlangsung pada usia 4-8 tahun. Sehingga pada periode ini anak sangat memerlukan pangan hewani agar kapasitas otak yang terbentuk dapat maksimum.
Betapa pentingnya pangan hewani seperti daging, telur dan susu sebagai bagian makanan sehat sehari-hari perlu terus dikomunikasikan kepada semua pihak baik pengambil keputusan makanan dalam keluarga maupun pengambil keputusan dalam pengembangan produksi dan penyediaan pangan hewani tersebut. Kegiatan praktis makan dengan produk hewani perlu dikembangkan bagi kaum wanita terutama ibu hamil di Posyandu dan anak-anak di berbagai lembaga pendidikan sekolah sejak dari TK untuk membangun kesehatan dan kecerdasan bangsa yang lebih kompetitif dimasa datang.
            3.2 Saran
Untuk mengakhiri tulisan ini agaknya pantas kita renungkan sebuah pepatah berbahasa Arab yang dikutip dalam Campbell dan Lasley (1985), yang berbunyi sebagai berikut : “Negara yang kaya dengan ternak tidak akan pernah miskin. Negara yang miskin dengan ternak tidak akan pernah kaya”. Ayo majukan sektor peternakan.!





Daftar Pustaka
Artikel Ekonomi Nusantara, edisi jum’at 08 Mei 2009. ( Konsumsi Daging di Indonesia Rendah) / (cha/JPNN)
Dirjen Bina Produksi Peternakan, 2004. Pokok-pokok pemikiran tentang                                          pembangunan peternakan 2005-2009. Departemen Pertanian RI, Jakarta.
Haryanto. 2007a. Paradigma Baru Pembangunan Peternakan; Membangunan
Peternakan Bertumpu pada Ternak Lokal. Bogor: Cendekia Publishing House
Makalah Seminar Nasional Pangan Hewani, Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, 23 September 2004, Se
Rusfidra. 2005c.Mencegah gizi buruk dan mengentaskan kemiskinan: peternakan skala rumahan. Protein hewani dan kecerdasan.
Sofyadi Cahyan, 2003. Konsep Pembangunan Pertanian dan Peternakan Masa Depan. Badan Litbang Departemen Pertanian. Bogor.
Srinivasan, M.R. dan Anatakrishnan, C.P. Milk Products of india, ICAR: New Delhi, 1964
Tranggono. 2004. Produk hewani dalam perspektif ilmu dan teknologi pangan.

0 komentar:

Posting Komentar