BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Di dunia ini terdapat banyak jenis
bahan bahan pangan. Bahan pangan adalah bahan yang memungkinkan seseorang untuk
tumbuh dan berkembang serta mampu beraktivitas dan memelihara kondisi tubuh.
Bahan pangan berguna untuk membangun sel-sel tubuh dan menjaga agar tetap
sehat. Bahan pangan didunia ini
sangat beragam, salah satunya adalah pakan
hewani, saat ini permintaan dunia terhadap pangan hewani (daging , telur dan
susu serta olahan lainnya) sangat besar dan diperkirakankan akan meningkat
sangat pesat selama delapan tahun kedepan khususnya untuk Negara-negara
berkembang.
Pangan dan gizi
mempunyai peranan setrategis dalam pembangunan bangsa. Secara tegas dijelaskan
dalam penjelasan atas undang-undang No. 6 Tahun 1996 tentang pangan, yang
dinyatakan bahwa kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya merupakan hak asasi
setiap rakyat indonesia harus senantiasa tersedia cukup setiap waktu, aman,
bermutu, bergizi dan beragam dengan harga terjangkau.
Fenomena yang terus
berkembang yaitu adanya kesadaran kuat dari berbagai kalangan bahwa pangan dan
gizi mempunyai peranan sangat yang kuat dalam membentuk suatu individu yang
sehat dan produktif.
Komoditas pangan yang
dapat memenuhi kebutuhan akan gizi diantaranya bersumber dari pangan hewani,
seperti daging, ikan, telur, susu dan unggas, banyak mengandung gizi dan
nutrisi yang memiliki komposisi kimia yang diperlukan bagi kehidupan manusia.
Untuk memudahkan konsumsi pangan hewani, berbagai cara dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan tersebut.
Pangan hewani (daging,
ikan, unggas, telur dan susu) termasuk makanan yang mudah rusak jika tidak
ditangani dengan cepat dan tepat. Hal ini akan berdampak pada penurunan
kualitas yang pada akhirnya berdampak pada kuantitas. Untuk mendapatkan mutu
pangan hewani yang baik, sebelum melakukan pengolahan, sebaiknya dipahami
terlebih dahulu mengenai perubahan – perubahan yang terjadi setelah fisiologi
pasca mortem, komposisi, mutu dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Produk pengolahan
pangan hewani tidak dapat disimpan lama
dalam suhu ruang. Masa simpan bahan pangan hewani dapat diperpanjang dengan
disimpan pada suhu rendah, dikeringkan, difermentasi, disterilisasi.
Penyimpanan pada suhu rendah dilakukan untuk memperlambat reaksi metabolisme.
Selain itu juga dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme penyebab kerusakan
atau kebusukan bahan pangan.
1.2
Maksud dan tujuan penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai syarat dan
tugas mengikuti Ujian Tengah Semester
(UTS) Pengantar Ilmu dan Industri Peternakan, serta untuk mengetahui peranan ternak sebagai sumber pangan
hewani bagi manusia,dan mengetahui fenomena-fenomena dunia yang terancam
kekurangan bahan pakan hewani sehingga kita dapat mengelola peternakan dengan maksimal.
1.3.Manfaat Makalah
Manfaat dari makalah ini adalah untuk mengetahui seberapa
besar peran ternak terhadap pemenuhan
pangan hewani serta pemenuhan gizi bagi manusia dan dapat membuka cakrawala
fenomena dunia yang terancam kekurangan pakan dan dapat memahami serta
mengelola sumber pakan hewani secara optimal.
1.5.Rumusan Masalah
Ada
beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain :
1.5.1
Apakah Pengertian Ternak Dan pangan ?
1.5.2 Berapa besar Tingkat konsumsi gizi pangan hewani di Indonesia ?
1.5.3 Apakah Manfaat unsur gizi dan protein hewani ?
1.5.4
Apa saja produk peternakan itu ?
1.5.5
Bagaimana upaya dalam penyedian pangan hewani yang aman di Indonesia ?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada tahun 2000, konsumsi daging unggas penduduk Indonesia
hanya 3,5 kg/kapita/tahun, sedangkan konsumsi penduduk Malaysia (36,7 kg),
Thailand (13,5 kg), Fhilipina (7,6 kg), Vietnam (4,6 kg) dan Myanmar (4,2 kg) Malaysia
100 gram/kapita/hari. Sedangkan Konsumsi daging unggas penduduk Indonesia hanya
10 gram/kapita/hari, (Poultry International, 2003 dalam Rusfidra,
2007a,b).
Begitupun konsumsi telur penduduk Indonesia baru 2,7
kg/kapita/tahun, sedangkan Malaysia 14,4 kg, Thailand 9,9 kg dan Fhilipina 6,2
kg. Bila satu kilogram telur rata-rata terdiri atas 17 butir, maka konsumsi
telur penduduk Indonesia hanya sekitar 46 butir/kapita/tahun atau 1/8
butir/kapita/hari. Pada periode yang sama, penduduk Malaysia setiap tahunnya
memakan 245 butir telur atau 2/3 butir telur/kapita/hari. Konsumsi susu
masyarakat Indonesia sangat rendah, yakni sekitar 7 kg /kapita /tahun, Malaysia
mencapai 20 kg/kapita/tahun, sedangkan masyarakat Amerika Serikat
mengkonsumsi susu 100 kg/kapita/tahun. Konsumsi daging, telur dan susu yang
rendah menyebabkan target konsumsi protein hewani sebesar 6 gram/kapita/hari
masih jauh dari harapan (Tuminga et. al. 1999).
Delgado et. al (1999) menduga akan terjadi
peningkatan produksi dan konsumsi pangan hewani dimasa depan. Di dalam artikel “Peternakan 2020: Revolusi Pangan Masa Depan”,
mereka menduga konsumsi daging penduduk dunia akan meningkat dari 233 juta ton
(tahun 2000) menjadi 300 juta ton (tahun 2020). Konsumsi susu meningkat dari
568 juta ton (tahun 2000) menjadi 700 juta ton pada tahun 2020, sedangkan
konsumsi telur diperkirakan mencapai 55 juta ton. Hal itu disebabkan
meningkatnya jumlah penduduk dunia, meningkatnya kesejahteraan dan meningkatnya
kesadaran gizi masyarakat dunia.
Protein hewani memiliki komposisi asam amino yang lengkap
dan dibutuhkan tubuh. Nilai hayati protein hewani relatif tinggi, banyak
nitrogen (N) dari suatu protein dalam pangan yang dimanfaatkan oleh tubuh untuk
pembuatan protein tubuh. Semakin tinggi nilai hayati protein suatu bahan pangan
makin banyak zat N dari protein tersebut yang dapat dimanfaatkan untuk
pembentukan protein tubuh. Hampir semua pangan asal ternak mempunyai nilai
hayati 80 ke atas. Telur memiliki nilai hayati tertinggi yakni 94-100
(Hardjosworo, 1987 dalam Rusfidra, 2005e).
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Pengertian Ternak Dan Pangan
Ternak
adalah hewan yang dengan sengaja dipelihara sebagai sumber pangan yang bermutu
tinggi,Pakaian yang mahal dan prestisius,Hasil samping RPH(Bahan dasar berbagai
proses kimiawi dan pakan ternak),Hewan coba(Penemuan IPTEK),Hiburan/hobi, sumber
bahan baku industri, atau sebagai pembantu pekerjaan manusia. Usaha
pemeliharaan ternak disebut sebagai peternakan (atau perikanan, untuk kelompok
hewan tertentu) dan merupakan bagian dari kegiatan pertanian secara umum. Ternak
dalam mencukupi kebutuhan non pangan:wool, bulu, dan kulit hewan serta Pupuk
kandang.
Sedangkan arti
penting pangan hewani
dalam Undang-undang RI No. 7 tahun 1996 tentang Pangan (UU Pangan) disebutkan
bahwa pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak azasi
setiap rakyat Indonesia. Pangan tersebut dapat berasal dari bahan nabati atau
hewani dengan fungsi utama sebagai sumber zat gizi. Pengelompokkan zat gizi
secara sederhana ini melahirkan pengelompokkan pangan menjadi 1) pangan sumber
zat tenaga ata karbohidrat dan lemak, 2) pangan sumber zat pembangun atau
protein, dan 3) pangan sumber zat pengatur atau sumber vitamin dan
mineral. Dari segi asal bahannya, pangan tersebut dikelompokkan pada pangan
hewani dan pangan nabati; dan pangn hewani dibedakan atas pangan hewani asal
produk peternakan (asal ternak) dan pangan hewani asal produk perikanan.
Pangan hewani mempunyai kebolehan dibanding
pangan nabati. Kebolehan tersebut adalah: 1) cita rasa yang lebih enak,
menggugah selera makan sehingga zat gizi lain terpenuhi; 2) mengandung protein
tinggi dengan daya cerna yang lebih baik sehingga lebih mudah dicerna dan
digunakan tubuh; 3) nilai biologis mineral dan vitamin yang lebih baik sehingga
lebih efisien digunakan tubuh; dan 4) mengandung asam amino esensial yang
lengkap.
Peran
berbagai macam kelompok pangan dalam penyediaan pangan di dunia
|
Kelompok Pangan
|
Kalori (%)
|
Protein (%)
|
|
Biji-Bijian(Cereals)
|
49
|
43
|
|
Umbi-umbian
|
10
|
10
|
|
Kacang-kacangan minyak/Lemak
Nabati
|
8
|
4
|
|
Gula dan Produknya
|
9
|
2
|
|
Sayur dan Buah
|
8
|
7
|
|
Daging
|
7
|
15
|
|
Telur
|
1
|
2
|
|
Ikan
|
1
|
5
|
|
Susu
|
5
|
11
|
3.2. Tingkat Konsumsi Gizi Pangan Hewani Di Indonesia
Tingkat
konsumsi pangan hewani masyarakat indonesia masih dibawah rata-rata kecukupan
gizi Dan dinilai masih jauh dibawah kecukupan gizi yang dianjurkan..Konsumsi
masyarakat Indonesia kebanyakan lebih mementingkan kekenyangan dari pada
kecukupan gizi, mereka makan dengan porsi nasi yang banyak dan lauknya sedikit,
hal ini menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat indonesia masih dibawah
rata-rata kecukupan gizi, padahal di Indonesia produk pangan hewani sangat
banyak seperti telur,daging dan susu yang ketiganya tadi mengandung cukup gizi.
Konsumsi pangan
hewan dibeberapa negara ASEAN juga relatif tinggi, di bandingkan di indonesia yaitu
Philippina 18,8 kg/kap/th, Malaysia 22,5 kg/kap/th, Thailand 28,0 kg/kap/th
dan Singapura 32 kg/kap/th (Haryono, 2007).
Berdasarkan analisis dari Pola Pangan Harapan (PPH), tingkat
konsumsi masyarakat Indonesia akan protein asal ternak baru mencapai 5,1
g/kap/hr yang setara dengan konsumsi susu 7,5 kg/kap/th, daging 7,7 kg/kap/th,
dan telur 4,7 kg/kap/th (Dirjen Bina Produksi Peternakan, 2004). Tingkat
konsumsi protein hasil ternak tersebut terhitung kecil dibanding jumlah
konsumsi protein (total nabati dan hewani) yang dianjurkan sebesar 46,2
g/kap/hr (Tranggono, 2004). Sebagai pembanding, konsumsi susu di Amerika,
Jepang dan beberapa negara Eropa sudah lebih dari 80 kg/kap/th.
Analisis paling akhir oleh Prof. I.K Han, guru besar Ilmu Produksi Ternak
Universitas Nasional Seoul (1999) menyatakan adanya relasi positif antara
tingkat konsumsi protein hewani dengan umur harapan hidup (UHH) dan pendapatan
perkapita. Makin tinggi konsumsi protein hewani penduduk, makin tinggi UHH dan
pendapatan domestik brutto (PDB) suatu negara. Masyarakat di beberapa negara
berkembang seperti Korea, Brazil, China, Fhilipina dan Afrika Selatan memiliki
konsumsi protein hewani 20-40 gram/kapita/hari, UHH penduduknya 65-75 tahun.
Negara-negara maju seperti AS, Prancis, Jepang, Kanada dan Inggris konsumsi
protein hewani masyarakatnya 50-80 gram/kapita/hari, UHH penduduknya 75-85
tahun. Sementara itu, negara-negara yang konsumsi protein hewaninya di bawah 10
gram/kapita/hari seperti Banglades, India dan Indonesia, UHH penduduknya hanya
55-65 tahun (Han, 1999).
Delgado et. al (1999) menduga akan terjadi
peningkatan produksi dan konsumsi pangan hewani dimasa depan. Di dalam artikel
“Peternakan 2020: Revolusi Pangan Masa Depan”, mereka menduga konsumsi
daging penduduk dunia akan meningkat dari 233 juta ton (tahun 2000) menjadi 300
juta ton (tahun 2020). Konsumsi susu meningkat dari 568 juta ton (tahun 2000)
menjadi 700 juta ton pada tahun 2020, sedangkan konsumsi telur diperkirakan
mencapai 55 juta ton. Hal itu disebabkan meningkatnya jumlah penduduk dunia,
meningkatnya kesejahteraan dan meningkatnya kesadaran gizi masyarakat dunia.
Konsumsi protein hewani yang rendah dapat berdampak pada
tingkat kecerdasan dan kualitas hidup penduduk. Negara Malaysia yang pada tahun
1970-an mendatangkan guru-guru dari Indonesia, sekarang jauh meninggalkan
Indonesia, terutama dalam kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagaimana
ditunjukkan oleh peringkat Human Development Indeks (HDI) tahun 2004 yang
dikeluarkan United Nation Development Program (UNDP). Dalam periode
tersebut, Indonesia berada pada peringkat ke-111, satu tingkat di atas Vietnam
(112), namun jauh di bawah negara ASEAN lainnya, Singapura (peringkat 25),
Malaysia (59), Thailand (76) dan Fhilipina (83) (Rusfidra, 2006a).
3.3. Manfaat Unsur Gizi Dan Protein Hewani
Pangan
hewani asal ternak mempunyai kebolehan dari segi kandungan vitamin, kandungan
mineral dan zat gizi lainnya. Dari segi vitamin, pangan hewani asal ternak
mempunyai keunggulan : 1) kaya kandungan vitamin B12 yang penting untuk
pembentukan sel darah merah, sintesisi DNA, kenormalan fungsi syaraf dan
kecerdasan; 2) kaya akan kholin sejenis vitamin B yang berperan mengendalikan
kadar kolesterol dan meningkatkan daya ingat; 3) kaya akan vitamin B6 yang penting untuk metabolisme asam nukleat, penggunaan protein
dalam pembentukan jaringan, produksi sel darah merah dan meningkatkan kekebalan
tubuh. Hal ini dibuktikan dengan kecerdasan anak, terutama aspek motorik
dan kognitif, berkaitan erat dengan kecukupan zat gizi mikro terutama
gizimikro seperti zat besi, iodium vitamin B6, asam folat dan vitamin B12
yang banyak terdapat dalam pangan hewani Mekanisme peran vitamin B12
tersebut dalam tubuh adalah melalui peran penting vitamin B12 dalam metabolisme
asam lemak esensial untuk pemeliharaan myelin, penyediaan methyl yang
diperlukan pada reaksi-rekasi sistem syaraf, dan pembentukan sel darah
merah. Defisiensi vitamin B12 dalam waktu lama dapat menyebabkan kerusakan
sistem syaraf yang tidak dapat diperbaiki dan akhirnya dapat menyebabkan
kematian sel-sel syaraf.
Kolin
sejenis vitamin B yang banyak dijumpai dalam pangan hewani kolin sebagai zat
gizi esensial, artinya perlu dikonsumsi untuk hidup sehat. Defisiensi kolin
mengakibatkan gangguan memori dan peningkatan sensitifitas tubuh pada zat
karsiogenik. Selain itu defisiensi kolin juga dapat meningkatkan
kadar kolesterol dan plasma homocysteine, yang meningkatkan risiko
menderita penyakit jantung koroner dalam kekokohan struktur dan selaput
sel, dalam melancarkan metabolisme dan pembuangan lemak dan
kolesterol, serta melancarkan fungsi hati. Kolin juga
bermanfaat dalam pengendalian mood, mengoptimalkan kerja sel-sel saraf dan
daya ingat.
Dari segi
mineral, pangan hewani asal trnak mempunyai keunggulan dalam hal: 1)
pangan asal ternak tertentu, khususnya susu, kaya akan kalsium yang penting
bagi pertumbuhan dan kesehatan; 2) kaya kandungan potasium (kalium) yang
penting bagi pengendalian tekanan darah; dan 3) kaya kandungan mineral zat besi
(iron) yang berperan dalam pembentukan sel darah merah dan turut menentukan
kecerdasan; dan 4) kaya akan mineral lainnya seperti zink yang perlu untuk
pertumbuhan, peningkatan imunitas dan pembentukan enzim tubuh.
Pangan
hewani asal ternak, terutama susu, kaya akan asam amino triptofan yang penting
bagi pertumbuhan, kesehatan dan pengendalian stres. Pangan hewani asal ternak
juga kaya akan lemak dan kolesterol yang dalam jumlah tidak berlebihan
bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan, terutama pada anak-anak dan usia
muda. Apapun dalam jumlah berlebihan pasti tidak baik bagi kesehatan.
Studi
Monckeberg (1971) dalam Rusfidra (2005c) menunjukkan adanya hubungan tingkat
konsumsi protein hewani pada anak usia pra-sekolah. Konsumsi protein hewani
yang rendah pada anak usia prasekolah dapat mengakibatkan anak-anak berbakat
normal menjadi sub-normal atau bahkan defisien. Peningkatan konsumsi protein
hewani dapat mengurangi frekuensi kejadian defisiensi mental. Ironisnya mereka
pada umumnya berasal dari keluarga tidakmampu(miskin). Selain untuk kecerdasan,
protein hewani dibutuhkan untuk daya tahan tubuh. Shiraki et al. (1972) dalam
Rusfidra (2005c) membuktikan peranan protein hewani dalam mencegah terjadinya
anemia pada orang yang menggunakan otot untuk bekerja keras. Gejala anemia
tersebut dikenal dengan istilah “sport anemia”. Penyakit ini dapat dicegah
dengan mengkonsumsi protein yang tinggi, dimana sebanyak 50% dari protein yang
dikonsumsi harus berasal dari protein hewani.
Protein hewani diduga berperan terhadap daya tahan eritrosit
(sel darah merah) sehingga tidak mudah pecah. Protein hewani juga berperan
dalam mempercepat regenerasi sel darah merah. Protein hewani memiliki komposisi
asam amino yang lengkap dan dibutuhkan tubuh. Nilai hayati protein hewani
relatif tinggi. Nilai hayati menggambarkan berapa banyak nitrogen (N) dari suatu
protein dalam pangan yang dimanfaatkan oleh tubuh untuk pembuatan protein
tubuh. Semakin tinggi nilai hayati protein suatu bahan pangan makin banyak zat
N dari protein tersebut yang dapat dimanfaatkan untuk pembentukan protein
tubuh. Hampir semua pangan asal ternak mempunyai nilai hayati 80 ke atas. Telur
memiliki nilai hayati tertinggi yakni 94-100 (Hardjosworo, 1987 dalam Rusfidra,
2005e).
3.4.
Produk Peternakan
Produk hasil ternak merupakan bahan pangan yang sangat
penting bagi rakyat selain bahan pangan pokok rakyat (beras). Sebagai
pendamping sajian makan sehari-hari , bahan pangan hewani merupakan sumber
protein penting (selain protein nabati) yang sangat berperan dalam pemenuhan
gizi masyarakat. Secara tradisional, sejak dahulu, masyarakat kita sudah
menyandingkan produk pangan hewani ini dalam menu makanan sehari-harinya.
Produk pangan hewani umumnya berupa daging, susu, telur dan
ikan yang sangat kaya protein. Protein ini juga sangat kaya asam amino esensial
yang sangat sesuai dengan kebutuhan manusia. Produk hewani mempunyai peran yang
sangat penting, hal ini berkaitan pada asupan kalori-protein yang rendah pada
anak balita menyebabkan terganggunya pertumbuhan, meningkatnya resiko
terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, menurunkan performs mereka
di sekolah dan menurunkan prokduktivitas tenaga kerja setelah dewasa.
Kasus malnutrisi yang sangat parah pada usia balita dapat menyebabkan bangsa
ini mengalami loos generation. Akibatnya adalah rendahnya daya saing SDM bangsa
ini dalam percaturan global antar bangsa. Berikut adalah sebagian kecil Produk
yang dihasilkan dari ternak antara lain :
1. Daging
merupakan salah satu jenis ternak yang hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan
manusia. Sebagai bahan pangan, daging merupakan sumber protein hewani dengan
kandungan gizi yang cukup lengkap. Dengan meluasnya konsumsi daging, sehingga
telah banyak bentuk hasil olahan yang berasal dari daging seperti daging
kornet, sosis, dendeng, abon dan daging sapi asap dan lain-lain. Bentuk-bentuk
pengolahan ini pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh tingkat ekonomi yang
mengolahnya sehingga hasil olahan tersebut dapat juga dimanfaatkan dengan
semaksimal mungkin.
2.
Susu, merupakan salah satu jenis produk
ternak yang dapat digunakan sebagai tambahan asupan gizi untuk manusia, susu
sapi kaya akan kalsium dan vitamin-vitamin, berikut adalah produk yang bisa
dikembangkan oleh susu sapi:
v Dadih ,dadih bisa dibuat dari susu
segar atau susu skim, dadih yang tidak pecah atau padat sangat disenangi, atau
dapat juga diberi cita rasa bumbu biasanya ditambahkan gula, garam, air buah
atau sale.dadih biasa digunakan untuk hidangan lezat atau bahan-bahan makanan
yang termasuk dalam makanan untuk diet-diet dirumah tangga di negara-negara
tropik (Bhanumurthi dan trehan, 1970; Rangappa, 1965; Warner, 1951).
v Mentega dan ghae ,ini umumnya di
pakai di rumah-rumah di Afrika dan Asia.
Cara pembuatan mentega dan ghae ini yaitu susu segar yang dikoagolasikan
dengan asam, terutama susu kerbau dengan kandungan lemaknya yang tinggi, dapat
diaduk-aduk untuk menghasilkan tipe-tipe mentega,ghae , dan dadih (Davies,
1939a; Mahanta, 1964a).
v Keju, keju yaitu produk-produk
tingkat ketiga asam dan atau enzim-enzim. Keju bukan merupakan bahan makanan
yang sangat umum di negara tropis, seperti di bagian-bagian dunia beriklim
sedang tetapi juga disukai oleh negara yang beriklim panas (assis dan freanssel,
1996) di buat di brassilia.
v Chenna dan khoa, dua produk susu
yang di buat di Asia, biasanya dipaki untuk gula-gula (Rastogi et al., 1996)
Khoa mungkin mempunyai 25-30% protein dan sampai 50% air, karena khoa dibuat
dengan menguapkan air dari susu segar, perbandingan satu bahan kering susu
dengan lainnya sama dalam khoa dengan perbandingan diantara dua bahan kering
susus yang sama dalam susu semula. (Rastogi et al., 1996)
v Susu kental, susu kental dibuat
dengan mengentalkan susu dengan menghilangkan sebagian besar airnya dengan cara
penguapan. Bahan yang dipakai adalah susu segar atau susu ski, susu segar
biasanya di standarkan sebelum dilakukan penguapan(Hunziker, 1949).
v Susu kering (susu bubuk)makin
bertambah lazim di negara-negara tropik, dibuat dengan satu atau dua
proses-roller( penggilingan) atau spray drying(pengeringan dengan
menyemprotkan). Biaya impor susu bubuk sangat mahal, oleh karena itu penggunaan
devisa tidak selalu tersedia dengan mudah bagi perekonomian yang sedang
berkembang.
v Es krim, popularitas es krim sangat
meningkat di negara-negara panas sebagai makanan pencuci mulut pada waktu minum
teh atau makan malam untuk kelompok-kelompok kecil. Suatu produksi beku sama
dengan es krim dibuat dirumah-rumah dan desa-desa india dan pakistan (Davies,1939a;
Warner, 1951).
3.
Telur, Telur, paling
banyak dipasok oleh ayam ras petelur dan merupakan sumber protein hewani asal
ternak termurah dengan harga yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas.
Telur dalam jumlah terbatas juga disumbangkan oleh ayam kampung dan itik
petelur. Telur ayamkampung lebih banyak berfungsi sebagai obat (campuran jamu)
dibandingkan dikonsumsisecara
langsung sebagaimana telur yang dihasilkan oleh ayam petelur. Demikian pula
telur itik lebih banyak digunakan untuk produk olahan pangan siap saji
seperti martabak dan telur asin,sedangkan
konsumsi dengan hanya digoreng atau direbus masih kurang disukai karena
agak berbau anyir. Perlu
diingat bahwa permintaan akan telur ayam akan terus meningkat dari tahun ketahun dengan peningkatan yang cukup signifikan
dan akan menggeser telur-telur lainnyasebagaimana
trend yang ada sekarang (Tangenjaya dan Djayanegara, 2002; Badan
LitbangPertanian, 2005b). Peluang ekspor telur unggas cukup sulit karena banyak
negara yang telahmencapai swasembada telur.
3.5.
Upaya Dalam Penyedian Pangan Hewani Yang Aman Di Indonesia
Upaya peningkatan ketersediaan pangan menjadi program
pemerintah yang sangat sulit dilakukan, terutama di bidang peternakan yang
berhubungan dengan swasembada daging. Hal ini terkendala masalah penyediaan
bibit, modal serta SDM , lebih dari 90% ternak sapi dipelihara oleh sekitar 6,5
juta rumah tangga di pedesaan dengan pengetahuan peternakan yang minim. Banyak
dari peternak sapi potong itu juga telah berusia tua, dengan tingkat pendidikan
lulusan sekolah dasar sehingga pengetahuan mereka pun terbatas. Sulitnya
memenuhi pangan hewani berupa daging tercermin pada awal pemerintahan Susilo
Bambang Yudoyono dan Jusuf Kalla , program swasembada daging sapi ditargetkan
pada tahun 2005, kemudian direfisi 2010 . namun tahun 2010 hal itu juga tidak
akan tercapai karena tidak mungkin dalam 2 tahun ditambah populasi bibit sapi 1
juta ekor. Selain tidak ada dana , bibit juga btidak ada. Mentri pertanian
sebelumnya, Anton Apriantono, mengakui, program swasembada daging sapi gagal
dicapai. Gagalnya program swasembada daging sapi karena laju pertambahan
populasi kalah cepat (kompas, 9/9/2009).
Departemen Pertanian menargetkan swasembada daging sapi
secara bertahap pada tahun 2014. Melalui sejumlah program, penyediaan daging
sapi didalam negeri diproyeksikan meningkat 67% pada tahun 2010 menjadi 90% di
tahun 2014. “dengan berbagai upaya ini, populasi sapi potong ditargetkan
meningkat dari 12 juta ekor pada tahun 2009 menjadi 14,6 juta ekor pada tahun
2014” kata Suwarno . hal ini disampaikan pada saat memaparkan rencana strategis
kecukupan daging 2010-2014 dalam seminar nasional pengembangan ternak potong
untuk mewujudkan program kecukupan / swasembada daging di Fakultas
Petrnakan Universitas GajahMada , Jogjakarta , sabtu (7/11).
Sebagai
negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat negara di dunia, Indonesia
termasuk pasar potensial bagi negara-negara lain. Produksi dalam negeri belum
mampu memenuhi kebutuhan konsumsi produk peternakan. Hal ini merupakan
tantangan besar dalam penyediaan bahan pangan hewani sebagai sumber protein
yang dibutuhkan oleh masyarakat. Saat ini konsumsi protein hewani penduduk
Indonesia masih sangat rendah yakni 4,5 gram/kapita/hari, sementara konsumsi
protein hewani masyarakat dunia adalah 26 gram/kapita/hari (Han, 1999).
Peningkatan konsumsi protein hewani dapat dipacu dengan meningkatkan pendapatan
rumahtangga dan kesadaran gizi masyarakat.
Merebaknya
kasus gizi buruk (malnutrisi) dan busung lapar pada anak-anak usia bawah lima
tahun (balita) beberapa waktu lalu sangat merisaukan kita sebagai bangsa.
Sesungguhnya, kasus malnutrisi disebabkan kurangnya asupan kalori-protein pada
tingkat rumahtangga. Masa balita merupakan “periode emas (the golden age)”
pertumbuhan anak manusia dimana sel-sel otak sedang berkembang dengan pesat.
Dalam periode ini protein hewani sangat dibutuhkan agar otak berkembang secara
optimal, tidak sampai tulalit, (Nadesul, Kompas 9/7/05).
Asupan
kalori-protein yang rendah pada anak balita menyebabkan terganggunya
pertumbuhan, meningkatnya resiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan
mental, menurunkan performans mereka di sekolah dan menurunkan produktivitas
tenaga kerja setelah dewasa (Pinstrup-Andersen, 1993 dalam Rusfidra, 2005a).
Kasus malnutrisi yang sangat parah pada usia balita dapat menyebabkan bangsa
ini mengalami loss generation. Akibat berikutnya adalah rendahnya daya saing
SDM bangsa ini dalam percaturan global antar bangsa. Namun sayangnya, ditengah
usaha berbagai pihak mempromosikan peningkatan konsumsi protein hewani, negara
ini kembali disibukkan oleh merebaknya wabah flu burung. Hingga Januari 2006
jumlah pasien yang diduga terinfeksi flu burung berjumlah 85 orang, dimana 17
pasien diantaranya meninggal dunia. Realitas ini menunjukkan bahwa kasus flu
burung masih bersirkulasi di sekitar kita Oleh karena itu, kita berharap kepada
aparatur pemerintah (Deptan dan Depkes) agar bekerja dengan visi dan rencana
kerja yang sistematis, tidak bekerja serabutan seperti selama ini. Selama ini
terkesan birokrat bekerja seperti “pemadam kebakaran”, baru kelihatan program
kerjanya setelah timbulnya masalah.
Penularan
flu burung selama ini terjadi melalui pernafasan (air borne desease), bukan
melalui makanan (food borne desease). Karena itu, kampanye makan daging ayam
dan telur secara aman merupakan langkah cerdas untuk memulihkan citra bahwa
memakan daging ayam dan telur relatif aman sepanjang kedua komoditi unggas
tersebut diolah secara benar sebelum dimakan. Selain itu, juga diperlukan
program penyediaan sumber protein hewani yang murah, mudah tersedia, terjangkau
dan bergizi tinggi pada tingkat rumahtangga. Dalam konteks ini, program “Family
Poultry” layak ditimbang sebagai sebuah solusi mengatasi terjadinya malnutrisi,
efektif dalam pengentasan kemiskinan, menjaga ketahanan pangan pada tingkat
rumahtangga dan sebagai sumber pendapatan (Rusfidra, 2005a, Rusfidra, 2005c,
Rusfidra, 2005d).
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Dari beberapa disimpulkan bahwa defisiensi
Protein, vitamin B12, asam folat, kolin dan zat besi, yang banyak terdapat
dalam pangan hewani asal ternak, dapat membantu perkembangan pada anak Sementara
perkembangan kognitif berlangsung dalam kurun waktu antara konsepsi sampaii
usia 4 tahun, dan 30 % berlangsung pada usia 4-8 tahun. Sehingga pada
periode ini anak sangat memerlukan pangan hewani agar kapasitas otak yang
terbentuk dapat maksimum.
Betapa pentingnya pangan hewani seperti daging, telur dan
susu sebagai bagian makanan sehat sehari-hari perlu terus dikomunikasikan
kepada semua pihak baik pengambil keputusan makanan dalam keluarga maupun
pengambil keputusan dalam pengembangan produksi dan penyediaan pangan hewani
tersebut. Kegiatan praktis makan dengan produk hewani perlu dikembangkan
bagi kaum wanita terutama ibu hamil di Posyandu dan anak-anak di berbagai
lembaga pendidikan sekolah sejak dari TK untuk membangun kesehatan dan
kecerdasan bangsa yang lebih kompetitif dimasa datang.
3.2 Saran
Untuk mengakhiri tulisan ini agaknya pantas kita renungkan
sebuah pepatah berbahasa Arab yang dikutip dalam Campbell dan Lasley (1985),
yang berbunyi sebagai berikut : “Negara yang kaya dengan ternak tidak akan
pernah miskin. Negara yang miskin dengan ternak tidak akan pernah kaya”. Ayo
majukan sektor peternakan.!
Daftar Pustaka
Artikel Ekonomi Nusantara, edisi jum’at 08 Mei 2009. ( Konsumsi Daging di Indonesia Rendah) / (cha/JPNN)
Dirjen Bina Produksi Peternakan,
2004. Pokok-pokok pemikiran tentang
pembangunan peternakan 2005-2009. Departemen Pertanian RI, Jakarta.
Haryanto. 2007a. Paradigma Baru
Pembangunan Peternakan; Membangunan
Peternakan Bertumpu pada Ternak
Lokal. Bogor: Cendekia Publishing House
Makalah Seminar Nasional Pangan
Hewani, Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, 23 September 2004, Se
Rusfidra. 2005c.Mencegah gizi buruk
dan mengentaskan kemiskinan: peternakan skala rumahan. Protein hewani dan
kecerdasan.
Sofyadi
Cahyan, 2003. Konsep Pembangunan Pertanian dan Peternakan Masa Depan. Badan
Litbang Departemen Pertanian. Bogor.
Srinivasan,
M.R. dan Anatakrishnan, C.P. Milk Products of india, ICAR: New Delhi, 1964
Tranggono.
2004. Produk hewani dalam perspektif ilmu dan teknologi pangan.

0 komentar:
Posting Komentar