|
|
BAB I
PENDAHULUAN
Analisis dapat
diartikan sebagai usaha memisahkan suatu kesatuan pengertian ilmiah atau suatu
kesatuan materi bahan menjadi komponen-komponen penyusunnya sehingga dapat
dikaji lebih lanjut. Sedangkan analisis kuantitatif dapat diartikan sebagai
usaha untuk menentukan keleimpahan suatu bahan penyusun zat
( biasanya dalam
kadar) yang diambil dari beberapa contoh sampel yang diinginkan. Salah satu
metode analisis kuantitatif dilakukan
kali ini adalah dengan menggunakan metode analisis volumetri. Analisis
Volumetri sendiri merupakan
suatu analisis kuantitatif yang dilakukan dengan jalan mengukur volume larutan
yang konsentrasinya
telah diketahui dengan
teliti. Larutan tersebut harus dapat
bereaksi secara kuantitatif dengan larutan zat yang akan diukur dengan
volumenya tertentu. Metode analisis kuantitatif
ini dapat mengukur kadar suatu zat, baik tingkat keasaman maupun kelarutannya.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk
mengenal bagaimana metode analisis kuantitatif. Serta untuk dapat melakukan
standarisasi larutan NaOH dan menggunakannya dalam menentukan kadar dari asam
cuka dengan cara menitrasikan larutan asam cuka dengan larutan NaOH. Manfaat dari praktikum ini adalah
dapat mengenal lebih dalam dan dapat mempraktikannya secara langsung cara kerja
dalam melakukan metode analisis kuantitatif ini.
|
|
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1.
Pengertian Analisis Kuantitatif
Analisis Kuantitatif adalah Pemisahan suatu senyawa kimia menjadi bagian bagian
terkecilnya ataupun yang kurang lebih demikian; penetapan unsur-unsurnyamaupun
zat-zat asing yang mungkin dikandungnya. Definisi ini mengikhtisarkan lingkup
kimia analisis dalam istilah yang sangat luas (Bassett et al.., 1994).
Kimia analisis berhubungan dengan teori dan praktek dari metode-metode yang
dipakai untuk menetapkan komposisi bahan. Dalam mengembangkan metode-metode
analisisnya, seorang kimiawan analisis dibebaskan untuk mencomot
prinsip-prinsip dari bidang ilmu lain (Day dan Underwood, 2002).
2.2.
Macam – macam Analisis Kuantitatif
2.2.1.
Volumetri
Volume digunakan untuk membedakan
konsentrasi dari substansi yang larut dalam larutan, hal ini dinamakan sebagai analisis
kuantitatif, namun dapat pula disebut sebagai analisis volumetri (Day dan Underwood, 2002). Volumetri
bersngkutan dengan pengukuran volume gas yang dibebaskan atau diserap dalam
suatu reaksi kimia (Bassett et al., 1994).
2.2.2.
Gravimetri
Gravimetri adalah suatu teknik
pengukuran kadar dalam suatu larutan yang bisa berupa garam-garam klorida (Day
dan Underwood, 2002). Dalam
analisis gravimetri, zat yang akan ditetapkan diubah menjadi endapan yang dapat
larut yang dikumpulkan dan ditimbang (Bassett et al., 1994).
2.2.3.
Titrimetri
Analisis titrimetri berkaitan dengan
pengukuran suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui yang
diperlukan untuk bereaksi dengan analit (Day dan Underwood, 2002). Dalam
analisis titrimetri, zat yang akan ditetapkan dibiarkan bereaksi dengan suatu
reagensia yang cocok yang ditambahkan sebagai suatu larutan baku (Bassett et
al., 1994).
|
|
BAB III
MATERI
DAN METODE
Praktikum
Pengenalan Analisis Kuantitatif ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 September
2013, di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia, Universitas Diponegoro, Semarang.
3.1.
Materi
Pratikum Pengenalan Analisis
Kuantitatif ini
menggunakan peralatan yaitu, buret yang digunakan untuk menitrasi, statif yang digunakan untuk meletakkan
klem, sedangkan klem
digunakan untuk menjepit buret dengan statif, selanjutnya untuk mencampur larutan kami
menggunakan erlenmeyer 100 ml, labu takar 250 ml yang berfungsi untuk membuat larutan
standar, serta pipet volume 10 ml yang digunakan untuk memipetkan NaOH, dan pipet tetes digunakan untuk mengambil larutan
dengan jumlah yang sedikit. Bahan yang digunakan dalam
praktikum ini antara
lain Asam Oksalat (H2C2O4).2H2O, larutan NaOH 0,11 N, indikator Fenolftalein
(PP) 1% yang berfungsi untuk mentralkan
larutan asam cuka, serta
asam cuka (CH3COOH) dengan merk Suka Sari yang kemudian akan dihitung berapa
kadarnya dan aquades 250 ml untuk mengencerkan asam cuka tersebut.
3.2.
Metode
3.2.1.
Standarisasi NaOH dengan larutan asam oksalat standar
Praktikum ini dilakukan dengan cara menimbang Asam Oksalat (H2C2O4.2H2O)
sejumlah 0,63 gram,
kemudian Asam Oksalat tersebut
dilarutkan ke dalam aquades
lalu encerkan
sampai volumenya menjadi 100 ml dengan menggunakan
labu takar, lalui
menuangkan larutan Asam
Oksalat tersebut
ke dalam buret. Lalu, mengambil
larutan NaOH sebanyak
10 ml kemudian memasukkannya ke dalam Erlenmeyer 100 ml, kemudian menambahkan indikator Fenolftalein sebanyak 3 tetes. Kemudian NaOH dititrasi dengan Asam oksalat
standar sampai warna merah indikator hilang. Lalu, mencatat volume Asam Oksalat yang diperlukan. Selanjutnya
mengulang titrasi sebanyak
2 kali, dan yang terakhir menghitung konsentrasi NaOH yang sesungguhnya.
3.2.2.
Penetapan kadar asam cuka
Praktikum ini dilakukan dengan cara mengisi larutan NaOH yang
telah diketahui konsentrasinya
tadi ke dalam buret.
Selanjutnya mengambil 10 ml
asam cuka yang kemudian diencerkan
sampai volume larutan tersebut menjadi 250 ml
dengan menggunakan labu takar. Lalu mengambil 10 ml asam
cuka yang telah diencerkan
tadi dan memasukannya ke dalam
enlemeyer kemudian menambahkan 3
tetes indikator fenolftalein. Selanjutnya
menitrasikan larutan tersebut dengan NaOH sampai muncul warna merah muda
yang tetap. Selanjutnya mengulang titrasi sebanyak 2 kali, dan
yang terakhir menghitung kadar
asam cuka tersebut.
|
|
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Standarisasi NaOH dengan Larutan Asam Oksalat Standar
Hasil praktikum Standarisasi NaOH
dengan Larutan Asam Oksalat Standar dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 1. Hasil Standarisasi NaOH
|
Titrasi
|
Volume
Asam Oksalat (ml)
|
|
Titrasi
I
|
11,1 ml
|
|
Titrasi
II
|
10.9 ml
|
|
Rata-rata
|
11 ml
|
Sumber : Data Primer Pratikum Kimia Dasar, 2013.
Standarisasi NaOH dengan asam oksalat
standar yang telah diketahui dengan teliti konsentrasinya yaitu 0,1 N.
Penggunaan titran asam oksalat dikarenakan larutan yang akan dititrasi adalah larutan basa (NaOH)
sehingga apabila ditambahkan asam akan menjadi netral. Ketika
fenolftalein (PP) ditambahkan, terbentuk warna merah muda karena larutan
bersifat basa dan indikator memberikan warna merah muda. Setelah titrasi
berlangsung warna merah muda berangsur-angsur hilang atau pudar pada saat itu
terjadilah titik ekuivalen. Hal ini bersesuaian dengan pendapat Sudarmadji
(1996) yang menyatakan bahwa titik keseimbangan titrasi asam-basa dicapai pada
saat keseimbangan antara asam dan basa yang saling bereaksi. Penyebab terjadinya
kenaikan volume asam oksalat yaitu lambatnya reaksi titrasi yang terjadi yang
memerlukan asam oksalat lebih banyak dari titrasi. Hal ini bersesuaian dengan
pendapat Day dan Underwood (2002) yang
menyatakan bahwa faktor yang menyebabkan kenaikan volume asam oksalat yaitu
lambatnya reaksi titrasi yang terjadi.
4.2
Pengamatan Penetapan Kadar Asam Cuka
Hasil
praktikum Pengenalan Analisis Kuantitatif diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 2.
Hasil Pengamatan Penetapan Kadar Asam Cuka
|
Titrasi
|
Volume
NaOH (ml)
|
|
Titrasi
I
|
6 ml
|
|
Titrasi
II
|
4,8 ml
|
|
Rata-rata
|
5,4 ml
|
Sumber:
Data Primer Pratikum Kimia Dasar, 2013.
Titik akhir
titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan yang mula-mula jernih menjadi
berwarna merah muda yang tetap. Hal ini menunjukkan bahwa percobaan yang
dilakukan berlangsung positif. Reaksi penetralan ini menghasilkan garam yang
sifatnya basa karena yang direaksikan adalah asam lemah dengan basa kuat
sehingga fenolftalein memberikan warna merah muda pada akhir titrasi Hal ini
bersesuaian dengan pendapat Bassett et al. (1994) yang
menyatakan bahwa ada sejumlah indicator asam-basa yang memiliki warna-warna
yang berbeda. Hal in dipertegas dengan pendapat Day dan Underwood (2002) bahwa
fenoftalein berperan sebagai indikator dalam titrasi dan titrasi NaOH selasai
pada titik akhir fenoftalein. Namun menurut perhitungan kadar asam cuka yang
diperoleh dalam praktikum ini tidak sama dengan yang tertera di kemasan produk
cuka perdagangan.
|
|
BAB V
SIMPULAN
DAN SARAN
5.1
Simpulan
Berdasarkan praktikum analisis
kuantitatif, dapat disimpulkan bahwa
konsentrasi
asam oksalat dengan NaOH yang
ditemukan berbeda dengan standar. Titrasi asam cuka akan terbentuk
warna merah muda saat ditetesi NaOH karena dalam keadaan setimbang atau titik
ekuivalen asam cuka berubah menjadi basa karena NaOH yang bereaksi dengan
larutan, Kadar asam cuka yang diperoleh tidak sama dengan yang tertera di
kemasan produk cuka perdagangan dan lebih rendah. Hal ini dapat disebabkan
karena proses titrasi yang kurang teliti atau banyak faktor pembatas.
5.2
Saran
Praktikum analisis
kuantitatif diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam melakukan titrasi, agar
dicapai hasil yang akurat serta
perlu memperhatikan kebersihan alat dan bahan agar larutan
benar benar steril.
|
|
DAFTAR PUSTAKA
Bassett
J., R.C. Danney, G.H. Jeffery, dan J. Mendham. 1994. Buku Ajar Vogel: Kimia
Analisis Kuantitatif Anorganik. Erlangga, Jakarta.
Day, R.A., JR. dan A.L. Underwood. 2002. Analisis
Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Erlangga, Jakarta.
Sudarmadji, Slamet. 1996. Teknik Analisis Biokimiawi.
Liberty, Yogyakarta.

0 komentar:
Posting Komentar