Pages

Minggu, 15 Desember 2013

Laporan Kimia Dasar Analisis kuantitatif


BAB I 
PENDAHULUAN
Analisis dapat diartikan sebagai usaha memisahkan suatu kesatuan pengertian ilmiah atau suatu kesatuan materi bahan menjadi komponen-komponen penyusunnya sehingga dapat dikaji lebih lanjut. Sedangkan analisis kuantitatif dapat diartikan sebagai usaha untuk menentukan keleimpahan suatu bahan penyusun zat
( biasanya dalam kadar) yang diambil dari beberapa contoh sampel yang diinginkan. Salah satu metode analisis kuantitatif dilakukan kali ini adalah dengan menggunakan metode analisis volumetri. Analisis Volumetri sendiri merupakan suatu analisis kuantitatif yang dilakukan dengan jalan mengukur volume larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti. Larutan tersebut harus  dapat bereaksi secara kuantitatif dengan larutan zat yang akan diukur dengan volumenya tertentu. Metode analisis kuantitatif ini dapat mengukur kadar suatu zat, baik tingkat keasaman maupun kelarutannya.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal bagaimana metode analisis kuantitatif. Serta untuk dapat melakukan standarisasi larutan NaOH dan menggunakannya dalam menentukan kadar dari asam cuka dengan cara menitrasikan larutan asam cuka dengan larutan NaOH. Manfaat dari praktikum ini adalah dapat mengenal lebih dalam dan dapat mempraktikannya secara langsung cara kerja dalam melakukan metode analisis kuantitatif ini.



BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.                 Pengertian Analisis Kuantitatif
Analisis Kuantitatif adalah Pemisahan suatu senyawa kimia menjadi bagian bagian terkecilnya ataupun yang kurang lebih demikian; penetapan unsur-unsurnyamaupun zat-zat asing yang mungkin dikandungnya. Definisi ini mengikhtisarkan lingkup kimia analisis dalam istilah yang sangat luas (Bassett et al.., 1994). Kimia analisis berhubungan dengan teori dan praktek dari metode-metode yang dipakai untuk menetapkan komposisi bahan. Dalam mengembangkan metode-metode analisisnya, seorang kimiawan analisis dibebaskan untuk mencomot prinsip-prinsip dari bidang ilmu lain (Day dan Underwood, 2002).

2.2.                 Macam – macam Analisis Kuantitatif
2.2.1.           Volumetri
Volume digunakan untuk membedakan konsentrasi dari substansi yang larut dalam larutan, hal ini dinamakan sebagai analisis kuantitatif, namun dapat pula disebut sebagai analisis volumetri (Day dan Underwood, 2002). Volumetri bersngkutan dengan pengukuran volume gas yang dibebaskan atau diserap dalam suatu reaksi kimia (Bassett et al., 1994).


2.2.2.           Gravimetri
Gravimetri adalah suatu teknik pengukuran kadar dalam suatu larutan yang bisa berupa garam-garam klorida (Day dan Underwood, 2002). Dalam analisis gravimetri, zat yang akan ditetapkan diubah menjadi endapan yang dapat larut yang dikumpulkan dan ditimbang (Bassett et al., 1994).

2.2.3.           Titrimetri
Analisis titrimetri berkaitan dengan pengukuran suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui yang diperlukan untuk bereaksi dengan analit (Day dan Underwood, 2002). Dalam analisis titrimetri, zat yang akan ditetapkan dibiarkan bereaksi dengan suatu reagensia yang cocok yang ditambahkan sebagai suatu larutan baku (Bassett et al., 1994).



BAB III 
MATERI DAN METODE
Praktikum Pengenalan Analisis Kuantitatif ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 September 2013, di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia, Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1.                 Materi
Pratikum Pengenalan Analisis Kuantitatif ini menggunakan peralatan yaitu, buret yang digunakan untuk menitrasi, statif yang digunakan untuk meletakkan klem, sedangkan klem digunakan untuk menjepit buret dengan statif, selanjutnya untuk mencampur larutan kami menggunakan erlenmeyer 100 ml, labu takar 250 ml yang berfungsi untuk membuat larutan standar, serta pipet volume 10 ml yang digunakan untuk memipetkan NaOH, dan pipet tetes digunakan untuk mengambil larutan dengan jumlah yang sedikit. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain Asam Oksalat (H2C2O4).2H2O, larutan NaOH 0,11 N, indikator Fenolftalein (PP) 1% yang berfungsi untuk mentralkan larutan asam cuka, serta asam cuka (CH3COOH) dengan merk Suka Sari yang kemudian akan dihitung berapa kadarnya dan aquades 250 ml untuk mengencerkan asam cuka tersebut.

3.2.                 Metode
3.2.1.           Standarisasi NaOH dengan larutan asam oksalat standar
Praktikum ini dilakukan dengan cara menimbang Asam Oksalat (H2C2O4.2H2O) sejumlah 0,63 gram, kemudian Asam Oksalat tersebut dilarutkan ke dalam aquades lalu encerkan sampai volumenya  menjadi 100 ml dengan menggunakan labu takar, lalui menuangkan larutan Asam Oksalat tersebut ke dalam buret. Lalu, mengambil larutan NaOH sebanyak 10 ml kemudian memasukkannya ke dalam Erlenmeyer 100 ml, kemudian menambahkan indikator Fenolftalein sebanyak 3 tetes. Kemudian NaOH dititrasi dengan Asam oksalat standar sampai warna merah indikator hilang. Lalu,  mencatat volume Asam Oksalat yang diperlukan. Selanjutnya mengulang titrasi sebanyak 2 kali, dan yang terakhir menghitung konsentrasi NaOH yang sesungguhnya.

3.2.2.           Penetapan kadar asam cuka
Praktikum ini dilakukan dengan cara mengisi larutan NaOH yang telah diketahui konsentrasinya tadi  ke dalam buret. Selanjutnya mengambil 10 ml asam cuka yang kemudian diencerkan sampai volume larutan tersebut menjadi 250 ml dengan menggunakan labu takar. Lalu mengambil 10 ml asam cuka yang telah diencerkan tadi dan memasukannya ke dalam enlemeyer kemudian menambahkan 3 tetes indikator fenolftalein. Selanjutnya menitrasikan larutan tersebut dengan NaOH sampai muncul warna merah muda yang tetap. Selanjutnya mengulang titrasi sebanyak 2 kali, dan yang terakhir menghitung kadar asam cuka tersebut.

BAB IV 
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1                   Standarisasi NaOH dengan Larutan Asam Oksalat Standar
Hasil praktikum Standarisasi NaOH dengan Larutan Asam Oksalat Standar dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 1. Hasil Standarisasi NaOH
Titrasi
Volume Asam Oksalat (ml)
Titrasi I
11,1 ml
Titrasi II
10.9 ml
Rata-rata
11 ml
Sumber : Data Primer Pratikum Kimia Dasar, 2013.
Standarisasi NaOH dengan asam oksalat standar yang telah diketahui dengan teliti konsentrasinya yaitu 0,1 N. Penggunaan titran asam oksalat dikarenakan larutan yang akan dititrasi adalah larutan basa (NaOH) sehingga apabila ditambahkan asam akan menjadi netral. Ketika fenolftalein (PP) ditambahkan, terbentuk warna merah muda karena larutan bersifat basa dan indikator memberikan warna merah muda. Setelah titrasi berlangsung warna merah muda berangsur-angsur hilang atau pudar pada saat itu terjadilah titik ekuivalen. Hal ini bersesuaian dengan pendapat Sudarmadji (1996) yang menyatakan bahwa titik keseimbangan titrasi asam-basa dicapai pada saat keseimbangan antara asam dan basa yang saling bereaksi. Penyebab terjadinya kenaikan volume asam oksalat yaitu lambatnya reaksi titrasi yang terjadi yang memerlukan asam oksalat lebih banyak dari titrasi. Hal ini bersesuaian dengan pendapat Day dan Underwood (2002) yang menyatakan bahwa faktor yang menyebabkan kenaikan volume asam oksalat yaitu lambatnya reaksi titrasi yang terjadi.

4.2                   Pengamatan Penetapan Kadar Asam Cuka
Hasil praktikum Pengenalan Analisis Kuantitatif diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 2. Hasil Pengamatan Penetapan Kadar Asam Cuka
Titrasi
Volume NaOH (ml)
Titrasi I
6 ml
Titrasi II
4,8 ml
Rata-rata
5,4 ml
Sumber: Data Primer Pratikum Kimia Dasar, 2013.
Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan yang mula-mula jernih menjadi berwarna merah muda yang tetap. Hal ini menunjukkan bahwa percobaan yang dilakukan berlangsung positif. Reaksi penetralan ini menghasilkan garam yang sifatnya basa karena yang direaksikan adalah asam lemah dengan basa kuat sehingga fenolftalein memberikan warna merah muda pada akhir titrasi Hal ini bersesuaian dengan pendapat Bassett et al. (1994) yang menyatakan bahwa ada sejumlah indicator asam-basa yang memiliki warna-warna yang berbeda. Hal in dipertegas dengan pendapat Day dan Underwood (2002) bahwa fenoftalein berperan sebagai indikator dalam titrasi dan titrasi NaOH selasai pada titik akhir fenoftalein. Namun menurut perhitungan kadar asam cuka yang diperoleh dalam praktikum ini tidak sama dengan yang tertera di kemasan produk cuka perdagangan.

BAB V 
SIMPULAN DAN SARAN
5.1                    Simpulan
Berdasarkan praktikum analisis kuantitatif, dapat disimpulkan bahwa konsentrasi asam oksalat dengan NaOH yang ditemukan berbeda dengan standar. Titrasi asam cuka akan terbentuk warna merah muda saat ditetesi NaOH karena dalam keadaan setimbang atau titik ekuivalen asam cuka berubah menjadi basa karena NaOH yang bereaksi dengan larutan, Kadar asam cuka yang diperoleh tidak sama dengan yang tertera di kemasan produk cuka perdagangan dan lebih rendah. Hal ini dapat disebabkan karena proses titrasi yang kurang teliti atau banyak faktor pembatas.

5.2                   Saran
Praktikum analisis kuantitatif diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam melakukan titrasi, agar dicapai hasil yang akurat serta perlu memperhatikan kebersihan alat dan bahan agar larutan benar benar steril.




DAFTAR PUSTAKA
Bassett J., R.C. Danney, G.H. Jeffery, dan J. Mendham. 1994. Buku Ajar Vogel: Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Erlangga, Jakarta.

Day, R.A., JR. dan A.L. Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Erlangga, Jakarta.

Sudarmadji, Slamet. 1996. Teknik Analisis Biokimiawi. Liberty, Yogyakarta.

0 komentar:

Posting Komentar